Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026

Kompas.com, 9 Juni 2026, 16:34 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengungkapkan produksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan (SAF) secara global masih jauh di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk membawa industri penerbangan menuju jalur bebas emisi.

Melansir ESG News, Senin (8/6/2026) IATA memperkirakan produksi SAF hanya akan mencapai sekitar 2,4 juta ton pada tahun 2026 ini. Jumlah tersebut hanya mencakup 0,8 persen dari total seluruh penggunaan bahan bakar pesawat di dunia.

Pasokan yang sangat terbatas ini diperkirakan bakal membebani maskapai penerbangan dengan biaya sebesar 4,3 miliar dolar AS, menambah tekanan bagi industri yang sudah harus menghadapi tingginya biaya energi, keterbatasan jumlah pesawat, dan tuntutan aturan iklim yang semakin ketat.

Angka-angka ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara target bebas emisi penerbangan tahun 2050 dengan kondisi kebijakan serta investasi yang ada saat ini.

SAF sendiri diharapkan bisa menjadi penyumbang terbesar dalam pengurangan polusi untuk penerbangan jarak jauh. Namun, produksinya saat ini masih terlalu sedikit, terlalu mahal, dan terlalu terpencar-pencar untuk bisa memenuhi kebutuhan maskapai di seluruh dunia.

"Tahun ini tampaknya menjadi tahun yang mengecewakan lagi untuk produksi SAF. Lima tahun setelah berjanji untuk mencapai bebas emisi pada 2050, nyatanya produksi SAF hanya memenuhi 0,8 persen dari penggunaan bahan bakar maskapai tahun ini," ungkap Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA.

Baca juga: Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri

"Jalan untuk memenuhi 65 persen kebutuhan kita di tahun 2050 menjadi semakin sulit setiap tahunnya karena kebijakan pemerintah yang tidak berurutan dengan efektif serta ketidakpedulian yang nyata dari perusahaan-perusahaan minyak. Krisis energi saat ini seharusnya membuat pengembangan energi terbarukan termasuk SAF menjadi lebih mendesak," papar Walsh.

"Namun, kita belum melihat adanya krisis energi, kebutuhan mandiri energi, penciptaan lapangan kerja, ataupun desakan untuk mengatasi perubahan iklim yang diwujudkan dalam bentuk bantuan intensif yang diperlukan untuk menciptakan pasar SAF yang sehat," tambahnya.

Fokus peningkatan kapasitas produksi

IATA pun mendesak pemerintah di berbagai negara untuk fokus terlebih dahulu pada peningkatan kapasitas produksi, ketersediaan energi terbarukan, dan kepastian investasi sebelum membuat aturan yang memaksa maskapai untuk membeli SAF.

Prioritas utama IATA meliputi memperbanyak pasokan energi terbarukan, menjamin akses terbuka bagi maskapai untuk menggunakan fasilitas pipa dan tangki bahan bakar di bandara, serta memperkuat dukungan kebijakan melalui pemberian insentif produksi dan sistem aturan yang aman bagi para investor untuk meminjamkan uang di bank.

Selain itu, IATA juga menginginkan adanya pasar SAF global yang didukung oleh standar aturan yang seragam di seluruh dunia serta sistem perdagangan digital.

Pendekatan tersebut akan memungkinkan maskapai penerbangan dan produsen bahan bakar untuk bertransaksi lintas negara, bahkan ketika pasokan fisik bahan bakarnya belum tersedia di negara mereka.

Sistem ini juga akan mengurangi risiko akibat aturan hukum di tiap negara yang berbeda-beda, yang bisa membuat biaya yang harus dibayar maskapai menjadi tidak adil.

Bagi para direktur perusahaan dan investor, urusan urutan pembuatan kebijakan kini menjadi hal yang paling penting. Aturan yang memaksa memang bisa menciptakan permintaan pembeli, tetapi aturan itu tidak otomatis menciptakan barang yang siap didanai.

Tanpa adanya bantuan modal, akses ke bahan baku, fasilitas pendukung, dan model kontrak pembelian yang jelas, SAF berisiko hanya menjadi beban biaya tambahan demi mematuhi aturan pemerintah saja, bukan menjadi solusi nyata yang bisa diperluas untuk menghapus polusi udara.

Penumpang mendukung pengurangan polusi yang nyata

Meskipun ada masalah kurangnya pasokan bahan bakar ramah lingkungan, hasil survei penumpang yang dilakukan IATA pada April 2026 menunjukkan adanya dukungan yang sangat besar dari masyarakat agar industri penerbangan bebas dari polusi.

Hampir 89 persen penumpang percaya bahwa industri penerbangan harus terus mengurangi emisi, bahkan jika pemerintah di negara mereka mengurangi upaya kepedulian terhadap iklim.

Jumlah yang sama juga menganggap bahwa naik pesawat adalah kebutuhan yang sangat penting, sehingga penerbangan harus diubah menjadi lebih ramah lingkungan, bukannya malah dibatasi jumlahnya.

Dukungan tersebut juga memengaruhi kesiapan para penumpang dalam mengeluarkan uang. Sekitar 66 persen penumpang menyatakan rela membayar harga tiket lebih mahal untuk mengganti rugi polusi yang dihasilkan dari perjalanan mereka.

Selain itu, hampir 88 persen penumpang sudah menduga dan maklum bahwa harga tiket pesawat akan naik karena adanya investasi untuk lingkungan ramah lingkungan ini.

Para penumpang juga lebih memilih tindakan nyata untuk mengurangi polusi daripada sekadar ditarik pajak lingkungan oleh pemerintah. Sekitar 25 persen penumpang ingin uang mereka disalurkan langsung untuk membeli SAF, sementara 23 persen lebih memilih uang itu dipakai untuk mendanai teknologi pengurangan polusi. Hanya 10 persen penumpang yang menganggap urusan bayar pajak sebagai hal yang utama.

Baca juga: Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026

Kepedulian terhadap lingkungan ini juga sudah mulai memengaruhi cara orang memilih penerbangan. Hampir setengah dari total penumpang kini selalu mempertimbangkan jumlah polusi karbon yang dihasilkan saat memilih tiket pesawat.

Di antara penumpang yang peduli tersebut, lebih dari 85 persen menyatakan bahwa data jumlah polusi benar-benar memengaruhi keputusan akhir mereka dalam membeli tiket.

Selain itu, sekitar tiga perempat (75 persen) penumpang lebih memilih untuk terbang bersama maskapai yang memiliki reputasi menjaga lingkungan dengan baik.

Lebih lanjut, bagi jajaran direksi, investor, dan pembuat kebijakan, masalah paling mendasar yang harus diselesaikan adalah bagaimana merancang sistem pasar yang benar.

SAF tidak akan bisa diproduksi dalam jumlah besar hanya dengan modal membuat target di atas kertas saja. Industri ini sangat membutuhkan ketersediaan energi terbarukan, akses ke fasilitas pipa dan tangki di bandara, bantuan modal produksi, aturan hukum yang seragam di berbagai negara, serta jaminan bahwa pembeli akan terus ada dalam jangka panjang.

Taruhannya sangat besar bagi seluruh dunia. Sektor penerbangan adalah urat nadi yang menghubungkan perdagangan, pariwisata, dan rantai pasokan barang lintas negara.

Jika bahan bakar SAF tetap langka dan susah dicari, maka biaya untuk menghapus polusi akan semakin melonjak tinggi dan target penyelamatan iklim akan semakin sulit untuk diwujudkan.

Babak berikutnya akan menjadi pembuktian apakah pemerintah di berbagai negara bisa mengubah ambisi politik mereka menjadi aksi nyata dalam membangun industri yang sesungguhnya. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau