KOMPAS.com - Orang-orang super kaya yang bepergian keliling dunia menggunakan jet pribadi, bersantai di kapal pesiar mewah seringkali disebut sebagai sosok penyebab krisis iklim.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa yang merugikan lingkungan bukan cuma gaya hidup mewah mereka saja, melainkan juga isi rekening bank orang-orang super kaya ini.
Apa maksudnya?
Melansir Guardian, Rabu (10/6/2026) melalui kepemilikan perusahaan serta aset keuangan dan fisik pribadi mereka, mulai dari perusahaan minyak hingga proyek pembangunan properti, kaum super kaya ini bertanggung jawab atas sebagian besar gas rumah kaca yang membuat bumi semakin panas.
Tak hanya itu, lewat kepemilikan saham dan investasi mereka, kelompok 1 persen orang terkaya di dunia ini mengendalikan sekitar seperempat (25 persen) dari total emisi global setiap tahunnya.
Baca juga: Orang Kaya Bisa Bantu Atasi Masalah Iklim, Saatnya Minta Mereka Kurangi Emisi
Greenpeace telah menghitung "utang iklim" dari orang-orang super kaya ini, dengan membebankan nilai kerusakan alam kepada mereka sesuai dengan jumlah aset dan perusahaan yang mereka miliki.
Berdasarkan hitungan ini, orang-orang terkaya di dunia menyebabkan kerusakan iklim senilai hampir 1 triliun dolar AS setiap tahunnya.
Greenpeace juga memperkirakan bahwa kelompok 1 persen orang terkaya bertanggung jawab atas sekitar 40 persen dari semua emisi berbasis kepemilikan. Itu merupakan polusi yang dihasilkan oleh bisnis dan terhubung dengan aset keuangan serta fisik yang dimiliki secara pribadi. Aset-aset tersebut menyumbang 60 persen dari total polusi karbon dunia.
Di dalam kelompok tersebut, kelompok 0,1 persen orang teratas menyumbang sekitar 17 persen emisi, dan kelompok 0,01 persen orang paling atas menyumbang sekitar 9 persen emisi.
Kelompok 1 persen teratas ini diisi oleh orang-orang dengan kekayaan di atas 2 juta dolar AS, kelompok 0,1 persen di atas 7 juta dolar AS, dan kelompok 0,01 persen di atas 38 milar dolar AS.
Sebaliknya, setengah dari total penduduk termiskin di dunia hanya menyumbang 3 persen dari emisi berbasis kepemilikan tersebut.
Baca juga: Jadi Surga Pajak Miliarder, Monako Diminta Paus Leo XIV Bantu Rakyat Miskin
Clara Thompson, pemimpin kampanye global untuk sistem sosio-ekonomi di Greenpeace International mengatakan bahwa sangat penting untuk melihat polusi dari sudut pandang kepemilikan aset karena, meskipun polusi ini tidak terlihat sejelas polusi dari gaya hidup sehari-hari, dampaknya justru jauh lebih sulit diatasi.
"Ini bukan hanya cerita tentang jet pribadi dan gaya hidup mewah. Dalam hal polusi yang dihasilkan oleh kaum super-kaya, apa yang mereka miliki jauh lebih berpengaruh daripada apa yang mereka konsumsi. Sebagian besar emisi karbon terkait erat dengan kepemilikan aset dan investasi mereka di industri yang kotor," katanya.
"Selama bertahun-tahun, kebijakan iklim selalu fokus pada konsumen. Namun temuan kami menunjukkan bahwa kita seharusnya memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada apa yang orang-orang miliki dan ke mana mereka menginvestasikan uangnya," terangnya lagi.
Baca juga: Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Ketimpangan yang sangat mencolok antara dampak kerusakan bumi akibat kaum super kaya dan masyarakat biasa kini semakin menjadi pusat perhatian, di saat jurang pemisah kekayaan dunia terus melebar tajam.
Salah satu cara untuk mengatasi ketimpangan ini adalah melalui pajak kekayaan.
"Utang iklim adalah tentang tanggung jawab. Jika kita sepakat bahwa mereka yang paling besar menyebabkan masalah harus berkontribusi lebih banyak untuk memperbaikinya, maka sangat masuk akal jika prinsip itu juga diterapkan pada orang-orang yang super-kaya," papar Thompson.
Sementara itu, data terpisah menunjukkan bahwa bank-bank besar dan investor keuangan lainnya justru mengucurkan dana sebesar 900 miliar dolar AS ke industri bahan bakar fosil tahun lalu, meskipun lima tahun lalu mereka sempat berjanji untuk membatasi investasi semacam itu.
Ekonom Thomas Piketty menambahkan manusia sebenarnya bisa hidup sejahtera dengan sumber daya bumi yang terbatas, asalkan kekayaan yang berlebihan dipotong lewat pajak dan masyarakat miskin diizinkan menikmati hasil kerja keras mereka secara lebih adil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya