Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah

Kompas.com, 11 Juni 2026, 16:26 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Orang-orang super kaya yang bepergian keliling dunia menggunakan jet pribadi, bersantai di kapal pesiar mewah seringkali disebut sebagai sosok penyebab krisis iklim.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa yang merugikan lingkungan bukan cuma gaya hidup mewah mereka saja, melainkan juga isi rekening bank orang-orang super kaya ini.

Apa maksudnya?

Melansir Guardian, Rabu (10/6/2026) melalui kepemilikan perusahaan serta aset keuangan dan fisik pribadi mereka, mulai dari perusahaan minyak hingga proyek pembangunan properti, kaum super kaya ini bertanggung jawab atas sebagian besar gas rumah kaca yang membuat bumi semakin panas.

Tak hanya itu, lewat kepemilikan saham dan investasi mereka, kelompok 1 persen orang terkaya di dunia ini mengendalikan sekitar seperempat (25 persen) dari total emisi global setiap tahunnya.

Baca juga: Orang Kaya Bisa Bantu Atasi Masalah Iklim, Saatnya Minta Mereka Kurangi Emisi

Utang iklim miliarder dunia

Greenpeace telah menghitung "utang iklim" dari orang-orang super kaya ini, dengan membebankan nilai kerusakan alam kepada mereka sesuai dengan jumlah aset dan perusahaan yang mereka miliki.

Berdasarkan hitungan ini, orang-orang terkaya di dunia menyebabkan kerusakan iklim senilai hampir 1 triliun dolar AS setiap tahunnya.

Greenpeace juga memperkirakan bahwa kelompok 1 persen orang terkaya bertanggung jawab atas sekitar 40 persen dari semua emisi berbasis kepemilikan. Itu merupakan polusi yang dihasilkan oleh bisnis dan terhubung dengan aset keuangan serta fisik yang dimiliki secara pribadi. Aset-aset tersebut menyumbang 60 persen dari total polusi karbon dunia.

Di dalam kelompok tersebut, kelompok 0,1 persen orang teratas menyumbang sekitar 17 persen emisi, dan kelompok 0,01 persen orang paling atas menyumbang sekitar 9 persen emisi.

Kelompok 1 persen teratas ini diisi oleh orang-orang dengan kekayaan di atas 2 juta dolar AS, kelompok 0,1 persen di atas 7 juta dolar AS, dan kelompok 0,01 persen di atas 38 milar dolar AS.

Sebaliknya, setengah dari total penduduk termiskin di dunia hanya menyumbang 3 persen dari emisi berbasis kepemilikan tersebut.

Baca juga: Jadi Surga Pajak Miliarder, Monako Diminta Paus Leo XIV Bantu Rakyat Miskin

Clara Thompson, pemimpin kampanye global untuk sistem sosio-ekonomi di Greenpeace International mengatakan bahwa sangat penting untuk melihat polusi dari sudut pandang kepemilikan aset karena, meskipun polusi ini tidak terlihat sejelas polusi dari gaya hidup sehari-hari, dampaknya justru jauh lebih sulit diatasi.

"Ini bukan hanya cerita tentang jet pribadi dan gaya hidup mewah. Dalam hal polusi yang dihasilkan oleh kaum super-kaya, apa yang mereka miliki jauh lebih berpengaruh daripada apa yang mereka konsumsi. Sebagian besar emisi karbon terkait erat dengan kepemilikan aset dan investasi mereka di industri yang kotor," katanya.

"Selama bertahun-tahun, kebijakan iklim selalu fokus pada konsumen. Namun temuan kami menunjukkan bahwa kita seharusnya memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada apa yang orang-orang miliki dan ke mana mereka menginvestasikan uangnya," terangnya lagi.

Baca juga: Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik

Mengatasi ketimpangan dampak kerusakan lingkungan

Ketimpangan yang sangat mencolok antara dampak kerusakan bumi akibat kaum super kaya dan masyarakat biasa kini semakin menjadi pusat perhatian, di saat jurang pemisah kekayaan dunia terus melebar tajam.

Salah satu cara untuk mengatasi ketimpangan ini adalah melalui pajak kekayaan.

"Utang iklim adalah tentang tanggung jawab. Jika kita sepakat bahwa mereka yang paling besar menyebabkan masalah harus berkontribusi lebih banyak untuk memperbaikinya, maka sangat masuk akal jika prinsip itu juga diterapkan pada orang-orang yang super-kaya," papar Thompson.

Sementara itu, data terpisah menunjukkan bahwa bank-bank besar dan investor keuangan lainnya justru mengucurkan dana sebesar 900 miliar dolar AS ke industri bahan bakar fosil tahun lalu, meskipun lima tahun lalu mereka sempat berjanji untuk membatasi investasi semacam itu.

Ekonom Thomas Piketty menambahkan manusia sebenarnya bisa hidup sejahtera dengan sumber daya bumi yang terbatas, asalkan kekayaan yang berlebihan dipotong lewat pajak dan masyarakat miskin diizinkan menikmati hasil kerja keras mereka secara lebih adil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau