Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Plastik Ancam Mata Pencarian dan Penghasilan Nelayan di Seluruh Dunia

Kompas.com, 17 Juni 2026, 08:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Tim peneliti menunjukkan bahwa sampah plastik merugikan nelayan di seluruh dunia.

Kerugian itu akibat sampah plastik yang akhirnya menyebabkan jaringan yang robek, baling-baling kapal yang tersangkut sampah hingga waktu melaut yang hilang karena kapal mereka terpaksa berhenti beroperasi.

Melansir Earth, Minggu (14/6/2026) tim yang dipimpin oleh ilmuwan kelautan Duc Nguyen dari Heriot-Watt University menyimpulkan setelah melakukan studi terhadap hampir 200 nelayan tradisional di sepanjang pesisir Vietnam.

Wawancara ini dilakukan di tiga wilayah muara sungai, lalu hasilnya dicocokkan kembali dengan kelompok nelayan lain serta pemeriksaan langsung terhadap sampah yang benar-benar tersangkut di jaring mereka.

Setelah dihitung semuanya, sampah plastik di laut membuat satu kapal merugi sekitar 3.400 dolar AS setiap tahunnya.

Jumlah itu menghabiskan sekitar 12 persen dari pendapatan kotor tahunan sebuah kapal, dan hampir seperempat dari uang bersih yang bisa dibawa pulang oleh pemiliknya. Bagi keluarga nelayan yang penghasilannya pas-pasan, kehilangan uang sebanyak itu akibat sampah terapung sangatlah menyakitkan.

Baca juga: Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap

Sebagian besar uang yang hilang itu bukan karena alat-alat yang rusak. Lebih dari separuh kerugian justru berasal dari kondisi kapal yang terpaksa berhenti melaut. waktu yang seharusnya dipakai untuk menangkap ikan, malah habis terbuang hanya untuk membersihkan sampah plastik yang tersangkut di jaring.

Menambah biaya

Kerugian besar lainnya datang dari jumlah tangkapan ikan yang berkurang drastis akibat sampah menyumbat atau merobek lubang jaring. Sisanya adalah kerugian untuk membayar tenaga orang yang membersihkan plastik dari hasil tangkapan, biaya memperbaiki alat pancing, serta memperbaiki baling-baling kapal yang macet melilit sampah.

Sebelum adanya penelitian ini, perkiraan-perkiraan lama hanya menghitung kerusakan yang terlihat mata saja dan melewatkan kerugian yang jauh lebih besar yaitu hilangnya kesempatan untuk menjala ikan.

Sebagai informasi, seorang nelayan bercerita untuk memenuhi jatah tangkapan harian, mereka hanya butuh melempar jaring 6 sampai 7 kali saja. Sekarang, mereka harus melempar jaring sampai 20 hingga 25 kali.

Tak hanya mengurangi pendapatan, nelayan juga berhadapan dengan risiko tinggi saat harus membersihkan sampah yang tersangkut di kapal mereka.

Tali dan jaring bekas yang hanyut di laut sering kali melilit baling-baling kapal. Proses memotong jaring agar baling-baling terbebas bisa berujung fatal atau mematikan. Di antara para nelayan yang diwawancarai, hampir separuhnya pernah berjuang melepaskan baling-baling yang tersangkut sampah, rata-rata terjadi beberapa kali dalam setahun.

Beberapa kejadian menyebabkan tangan terluka parah atau teriris. Kejadian lainnya sampai membuat nelayan kehilangan anggota tubuh, atau kru kapal terseret masuk ke dalam pusaran pisau baling-baling saat mereka menjangkau ke bawah air untuk membersihkan sampah. Kasus ini memang jarang terjadi, tetapi benar-benar nyata.

Kecelakaan seperti ini memang tidak terjadi setiap hari, tetapi hal ini membuktikan bahwa sampah terapung di laut membawa risiko bahaya fisik bagi keselamatan nyawa, di luar kerugian uang yang sudah mereka tanggung.

Solusi membersihkan sampah plastik

Para nelayan ternyata memiliki solusi sendiri untuk mengatasi masalah ini dan dengan biayanya sangat murah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau