Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 17 Juni 2026, 19:35 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Studi mengungkapkan, perubahan iklim menyebabkan perempuan pesisir kehilangan pekerjaan, sementara anak-anak terpaksa ikut mencari nafkah.

Dalam studi berjudul Climate Change, Labour, and Migration in Indonesia: Impacts on Women and Children, peneliti menemukan hal itu dikarenakan migrasi atau relokasi akibat banjir yang dipicu perubahan iklim.

"Untuk perempuan, sebetulnya untuk perubahan iklim terutama di Semarang dampaknya misalnya kalau pabrik-pabrik relokasi ke selain Semarang mereka jadi kehilangan mata pencaharian," kata Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laely Nurhidayah dalam diskusi ditulis Rabu (17/6/2026).

Tim peneliti melakukan riset melalui proyek bersama KONEKSI tahun 2023–2025 yang melibatkan peneliti dari BRIN, Universitas Diponegoro, dan Griffith University di empat lokasi utama yakni DKI Jakarta, Pekalongan, Semarang, serta Demak. Hasilnya menunjukkan, perempuan di pesisir Semarang tidak bekerja lagi usai menikah sehingga pendapatan mereka menurun.

Baca juga: Tiga Bahaya Perubahan Iklim Intai Hampir Separuh Anak di Dunia

Di sisi lain, sang suami hanya bekerja serabutan yang tak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun sekolah anak. Sulitnya ekonomi turut menyebabkan anak-anak kekurangan gizi dan mengalami stunting.

Hal ini diperparah dengan tingginya angka pernikahan dini, gizi buruk, hingga sulitnya akses sanitasi. Di Jakarta Utara, dilaporkan bahwa masyarakat yang dulunya tinggal di area tambak, kini harus beralih menjadi pengupas kerang hijau karena lingkungan mereka telah berubah dan rusak.

"Mereka (perempuan) sebetulnya butuh untuk anak-anak sekolah, mereka beralih mata pencaharian menjadi buruh borongan atau harus pergi (bekerja) jauh. Banyak memang yang terdampak dari perubahan iklim, perempuan-perempuan ini sebetulnya sangat membantu perekonomian, tetapi karena perubahan iklim kadang akhirnya keuangannya menjadi menurun dan akhirnya dampaknya (anak) stunting," jelas Laely.

Sementara di Pekalongan, pekerja perempuan menghadapi upah rendah, ketidakamanan pendapatan, serta kontrak yang tidak teratur. Perempuan menghadapi tantangan lain berupa kurangnya dukungan pengasuhan anak dan beban kerja domestik.

Ketika terjadi bencana iklim, tanggung jawab pengasuhan yang meningkat memaksa perempuan meninggalkan pekerjaan formal atau produktif mereka.

Dalam banyak kasus, orangtua yang kehilangan pekerjaan karena dampak perubahan iklim pada gilirannya memicu peningkatan pekerja anak sebagai strategi bertahan hidup keluarga.

Anak-anak usia 10–12 tahun menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kerja paksa. Sebanyak 44,8 persen dari data penelitian menemukan, anak bekerja satu jam per pekan dengan 23 persen dari mereka bekerja lebih dari 40 jam per pekan.

Sebanyak 44,4 persen kelompok usia 13–14 tahun tercatat bekerja melampaui batas panduan 15 jam per minggu.

Pada kelompok usia 15–17 tahun, ditemukan 7,9 persen anak yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu, menunjukkan praktik pekerja anak dengan jam kerja berlebihan masih terjadi di berbagai kelompok usia.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Undip, Wiwandari Handayani menekankan pentingnya kebijakan dan komitmen pemerintah menangani dampak perubahan iklim. Menurut dia, selama ini kebijakan penanganan perubahan iklim masih lebih banyak berfokus pada pembangunan infrastruktur.

"Kita bisa membangun konsep kolaboratif planning, jadi artinya inklusif, melibatkan banyak pihak non-pemerintah. Sebenarnya sudah banyak juga local hero komunitas lokal, yang dapat melakukan pendampingan dan menurut saya ini cukup efektif karena mereka lebih mengenal wilayahnya daripada mungkin pemerintah yang jauh di sana," tutur Wiwandari.

Dia lantas mendorong penerapan strategi ganda, yakni tetap mendorong percepatan kebijakan pemerintah yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberi perhatian pada dampak sosial perubahan iklim. Di saat yang sama, penguatan kapasitas masyarakat di tingkat komunitas.

"Seperti hal yang kami temui dan tertulis juga di dalam buku (riset), misalnya di Pekalongan atau di Demak kami lihat ini gerakan kecil, tapi memang real (dampaknya)," imbuh dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau