Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi

Kompas.com, 17 Juni 2026, 20:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan Global Canopy mengungkapkan hampir 60 persen lembaga keuangan terkemuka di dunia tidak memiliki aturan hukum mengenai deforestasi. Padahal, kerusakan hutan terbukti bisa menimbulkan risiko kerugian finansial yang besar bagi bisnis mereka.

Melansir Edie, Selasa (16/6/2026) laporan lembaga nirlaba berjudul Forest 500 ini mengamati  150 lembaga keuangan yang paling banyak mengalirkan dana untuk menyokong perusahaan-perusahaan dalam daftar Forest 500. Itu merupakan kelompok bisnis yang paling rawan terlibat dalam risiko penggundulan hutan global.

Lembaga-lembaga keuangan ini tercatat telah memberikan bantuan dana langsung maupun tidak langsung sebesar 8,9 triliun dolar AS kepada perusahaan yang berisiko terlibat deforestasi pada tahun 2024.

Menurut studi baru tersebut, dari 150 lembaga keuangan, sebanyak 89 lembaga (59 persen) tidak memiliki aturan hukum soal penggundulan hutan untuk bahan-bahan alam yang paling berisiko tinggi. Bahan-bahan tersebut meliputi daging sapi, cokelat , kopi, kulit hewan, kelapa sawit, bubur kertas dan kertas, karet, kedelai, serta kayu.

Di antara 89 lembaga tahun ini, ada 23 lembaga yang dicap sebagai "kelompok yang terus-menerus ketinggalan".

Baca juga: Meski Menjanjikan bagi Petani, Ekspor Sawit ke Eropa Masih Dibayangi Isu Deforestasi

Laporan tersebut mencatat bahwa mereka selalu gagal menerbitkan aturan apa pun terkait pencegahan kerusakan hutan sejak Global Canopy memulai penilaian tahunannya pada tahun 2014. Kelompok ini termasuk perusahaan investasi raksasa dunia seperti BlackRock, State Street, dan Vanguard.

Kemajuan yang sangat sedikit

Perkembangan masalah ini hampir tidak berubah dibanding penilaian tahun lalu.

Pada tahun 2024, Global Canopy mencatat ada 60 perusahaan yang sudah menerbitkan aturan pencegahan kerusakan hutan untuk satu atau lebih bahan alam yang berisiko tinggi. Namun pada tahun 2025, hanya ada satu perusahaan tambahan saja yang baru membuat aturan serupa.

Bahkan pada tahun 2025, beberapa bank besar seperti Fidelity International (Bermuda), HSBC (Inggris), UBS (Swiss), dan US Bancorp (Amerika Serikat) justru menghapus aturan pencegahan kerusakan hutan untuk salah satu jenis bahan alam mereka.

Di sisi lain, ada lima lembaga keuangan lagi yang baru menerbitkan aturan ketat untuk semua jenis bahan alam berisiko tinggi sejak laporan terakhir.

Baca juga: Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi

Lembaga tersebut adalah Crédit Agricole (Prancis), NatWest (Inggris), Schroders (Inggris), Standard Chartered (Inggris), dan Yayasan Pelaburan Bumiputera (Malaysia). Meskipun begitu, jumlah ini tetap saja sangat sedikit, karena baru mencakup 10 lembaga atau hanya 7 persen dari total keseluruhan.

Kerugian akibat deforestasi

Laporan ini menunjukkan hubungan yang sangat jelas antara penggundulan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta ketidakstabilan keuangan.

Jika perusahaan-perusahaan yang dibiayai oleh bank tidak bisa lagi mendapatkan bahan baku alam akibat hutannya sudah habis, maka proses produksi mereka akan mandek. Akibatnya, penjualan dan keuntungan perusahaan pun akan ikut hancur.

Laporan tersebut mencatat bahwa sektor keuangan sebenarnya punya kekuatan ekonomi yang besar untuk memaksa perusahaan-perusahaan agar beralih ke cara kerja yang menjaga kelestarian alam. Namun, sangat sedikit bank yang memanfaatkan kekuatan tersebut dalam bentuk aturan hukum tertulis yang nyata untuk melindungi hutan.

Menurut laporan ini, hanya 39 persen lembaga keuangan yang sadar dan melihat bahwa kerusakan hutan adalah sebuah risiko yang bisa mengancam kelangsungan bisnis mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau