Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah

Kompas.com, 19 Juni 2026, 14:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan pangan PBB memperingatkan bahwa jutaan orang kemungkinan besar akan menghadapi kelaparan akut yang makin memburuk di 13 wilayah kritis dunia dalam beberapa bulan ke depan.

Melansir Down to Earth, Kamis (17/6/2026) Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan bahwa perang, bencana akibat perubahan iklim, dan pemotongan dana bantuan menjadi penyebab jutaan orang semakin tenggelam dalam krisis pangan yang parah.

Laporan bersama tentang Wilayah Krisis Kelaparan (Hunger Hotspots) yang dikeluarkan oleh FAO dan WFP ini menyatakan bahwa krisis pangan diperkirakan akan makin memburuk antara bulan Juni hingga November 2026.

Kedua lembaga tersebut menyebutkan bahwa saat ini diperkirakan ada sekitar 266 juta orang yang sudah mengalami kelaparan akut tingkat tinggi. Mereka menyerukan agar dunia internasional segera mengambil tindakan darurat.

13 wilayah krisis yang diidentifikasi tersebut adalah Afganistan, Myanmar, Sudan Selatan, Somalia, Haiti, Sudan, Palestina, Yaman, Lebanon, Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, Nigeria, dan Mali.

Tujuh di antara wilayah tersebut berada di Afrika, yaitu Sudan Selatan, Somalia, Sudan, Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, Nigeria, dan Mali.

Baca juga: Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai

Wilayah yang paling mengkhawatirkan

Laporan tersebut menyatakan bahwa Sudan, Sudan Selatan, Somalia, Nigeria, Yaman, dan Palestina tetap menjadi wilayah yang paling mengkhawatirkan.

Sudan adalah kasus yang paling darurat. Laporan ini menemukan adanya risiko bencana kelaparan massal (famine) di 14 wilayah yang tersebar di Darfur Utara, Darfur Selatan, dan Kordofan Selatan hingga September 2026.

Kondisi bencana kelaparan ini diperkirakan akan terus bertahan di 13 wilayah selama musim panen, bahkan berlanjut hingga Januari 2027.

Di Sudan Selatan, empat wilayah di daerah Jonglei dan Upper Nile diperkirakan menghadapi risiko bencana kelaparan massal hingga Juli 2026.

Nigeria baru saja dinaikkan ke tingkat risiko paling tinggi, setelah perkiraan data menunjukkan bahwa sebagian masyarakat di wilayah Borno bisa mengalami kelaparan tingkat bencana.

Somalia juga ikut masuk ke dalam kelompok wilayah yang paling mengkhawatirkan karena meningkatnya risiko bencana kelaparan di beberapa bagian negara tersebut. Sementara itu, Afganistan, Haiti, dan Republik Demokratik Kongo tetap menjadi wilayah yang sangat mengkhawatirkan. Myanmar, Mali, Lebanon, dan Madagaskar juga diperkirakan akan mengalami kondisi yang makin memburuk.

Di Republik Demokratik Kongo, wabah penyakit Ebola yang dilaporkan pada bulan Mei semakin memperberat beban hidup masyarakat dan merusak ketersediaan pangan di sana. Sementara itu, Lebanon dan Madagaskar baru saja dimasukkan ke dalam daftar wilayah krisis, masing-masing karena perang yang semakin meluas dan cuaca buruk.

Penyebab utama kelaparan

Laporan tersebut menyatakan bahwa konflik bersenjata dan kekerasan merupakan penyebab utama kelaparan di 12 dari 13 wilayah krisis tersebut.

Tekanan ekonomi termasuk kenaikan harga barang, mahalnya biaya energi dan pupuk, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia juga membuat krisis pangan semakin memburuk.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau