Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi

Kompas.com, 22 Juni 2026, 14:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Stres akibat panas yang dialami oleh sapi perah ternyata tidak hanya mengurangi jumlah susu yang dihasilkan.

Penelitian terbaru menemukan bahwa suhu bumi yang semakin panas juga menurunkan kandungan lemak dan protein di dalam susu tersebut.

Melansir Phys, Kamis (18/6/2026) penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini menunjukkan dampak baru dari krisis iklim terhadap produksi susu.

Para peneliti menemukan bahwa kerugian uang yang diderita peternak akibat turunnya kadar lemak dan protein ini ternyata sama besarnya dengan kerugian akibat berkurangnya jumlah liter susu yang sudah sering dibahas sebelumnya.

Misalnya saja di Amerika Serikat sendiri, uang bayaran yang diterima peternak dihitung berdasarkan banyaknya kandungan lemak dan protein di dalam susu yang mereka setor.

"Penurunan komponen susu yang berharga akibat cuaca panas ini terjadi tanpa banyak disadari orang," kata Ariel Ortiz-Bobea, salah satu penulis utama penelitian sekaligus profesor di Cornell University.

Baca juga: Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon

"Ketika kita menghitung rusaknya kualitas kandungan susu ini, kerugian ekonominya ternyata sama besarnya dengan efek berkurangnya jumlah susu. Jadi, hal ini pada dasarnya melipatgandakan kerugian yang dialami peternak," katanya lagi.

Kerugian karena kualitas susu sapi memburuk

Dalam studi ini peneliti menggunakan data produksi susu dari sekitar 6,5 juta ekor sapi antara tahun 2007 hingga 2016. Mereka kemudian membandingkan data tersebut dengan data cuaca di periode yang sama, dengan tingkat keakuratan yang sangat detail hingga wilayah sekecil 4 kilometer di 43 negara bagian.

Tim peneliti kemudian menemukan bahwa jumlah susu yang dihasilkan sapi akan turun drastis setelah melewati batas suhu dan kelembapan udara tertentu, sama seperti hasil penelitian sebelumnya.

Namun, efek buruk terhadap rusaknya kandungan gizi susu ternyata sudah mulai terjadi pada suhu yang lebih rendah dan terus memburuk seiring meningkatnya suhu udara.

"Jika suhu udara berada sekitar 15 derajat C hingga 25 derajat C, Anda belum melihat adanya penurunan pada jumlah liter susu, tetapi kandungan gizinya sudah mulai mengencer secara perlahan," kata Ortiz-Bobea

"Berbeda dengan penurunan jumlah susu yang hanya terjadi di musim panas, pengenceran gizi ini terjadi sepanjang waktu," terangnya lagi.

Tim peneliti menghitung potensi kerugian pendapatan para peternak. Mereka menemukan bahwa setiap kenaikan rata-rata 10 poin pada skala suhu dan kelembapan, jumlah susu yang dihasilkan berkurang 1,2 persen.

Namun, pendapatan peternak berkurang jauh lebih besar, yaitu 2,8 persen dalam setahun. Hal ini setara dengan kerugian sebesar 1,65 miliar dolar AS bagi industri susu, yang menyumbang 20 persen dari seluruh produk hewan di Amerika Serikat.

"Ini adalah beban berat lainnya bagi para peternak sapi perah. Harga susu sudah murah, peternak sedang kesusahan, dan kondisi ini biasanya memaksa peternakan kecil gulung tikar lalu bergabung ke perusahaan yang lebih besar. Hal tersebut mengubah wajah wilayah pedesaan, baik secara lingkungan maupun ekonomi," papar " Ortiz-Bobea.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau