KOMPAS.com - Stres akibat panas yang dialami oleh sapi perah ternyata tidak hanya mengurangi jumlah susu yang dihasilkan.
Penelitian terbaru menemukan bahwa suhu bumi yang semakin panas juga menurunkan kandungan lemak dan protein di dalam susu tersebut.
Melansir Phys, Kamis (18/6/2026) penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini menunjukkan dampak baru dari krisis iklim terhadap produksi susu.
Para peneliti menemukan bahwa kerugian uang yang diderita peternak akibat turunnya kadar lemak dan protein ini ternyata sama besarnya dengan kerugian akibat berkurangnya jumlah liter susu yang sudah sering dibahas sebelumnya.
Misalnya saja di Amerika Serikat sendiri, uang bayaran yang diterima peternak dihitung berdasarkan banyaknya kandungan lemak dan protein di dalam susu yang mereka setor.
"Penurunan komponen susu yang berharga akibat cuaca panas ini terjadi tanpa banyak disadari orang," kata Ariel Ortiz-Bobea, salah satu penulis utama penelitian sekaligus profesor di Cornell University.
Baca juga: Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
"Ketika kita menghitung rusaknya kualitas kandungan susu ini, kerugian ekonominya ternyata sama besarnya dengan efek berkurangnya jumlah susu. Jadi, hal ini pada dasarnya melipatgandakan kerugian yang dialami peternak," katanya lagi.
Dalam studi ini peneliti menggunakan data produksi susu dari sekitar 6,5 juta ekor sapi antara tahun 2007 hingga 2016. Mereka kemudian membandingkan data tersebut dengan data cuaca di periode yang sama, dengan tingkat keakuratan yang sangat detail hingga wilayah sekecil 4 kilometer di 43 negara bagian.
Tim peneliti kemudian menemukan bahwa jumlah susu yang dihasilkan sapi akan turun drastis setelah melewati batas suhu dan kelembapan udara tertentu, sama seperti hasil penelitian sebelumnya.
Namun, efek buruk terhadap rusaknya kandungan gizi susu ternyata sudah mulai terjadi pada suhu yang lebih rendah dan terus memburuk seiring meningkatnya suhu udara.
"Jika suhu udara berada sekitar 15 derajat C hingga 25 derajat C, Anda belum melihat adanya penurunan pada jumlah liter susu, tetapi kandungan gizinya sudah mulai mengencer secara perlahan," kata Ortiz-Bobea
"Berbeda dengan penurunan jumlah susu yang hanya terjadi di musim panas, pengenceran gizi ini terjadi sepanjang waktu," terangnya lagi.
Tim peneliti menghitung potensi kerugian pendapatan para peternak. Mereka menemukan bahwa setiap kenaikan rata-rata 10 poin pada skala suhu dan kelembapan, jumlah susu yang dihasilkan berkurang 1,2 persen.
Namun, pendapatan peternak berkurang jauh lebih besar, yaitu 2,8 persen dalam setahun. Hal ini setara dengan kerugian sebesar 1,65 miliar dolar AS bagi industri susu, yang menyumbang 20 persen dari seluruh produk hewan di Amerika Serikat.
"Ini adalah beban berat lainnya bagi para peternak sapi perah. Harga susu sudah murah, peternak sedang kesusahan, dan kondisi ini biasanya memaksa peternakan kecil gulung tikar lalu bergabung ke perusahaan yang lebih besar. Hal tersebut mengubah wajah wilayah pedesaan, baik secara lingkungan maupun ekonomi," papar " Ortiz-Bobea.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya