JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 70 relawan mengangkut tiga ton sampah plastik dari Pantai Liang, Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, pada 13 Juni 2026. Ini dilakukan dalam rangka Global Ocean Cleanup, sebuah gerakan internasional yang diinisiasi Oceanic Society.
Dalam kegiatan tersebut, No-Trash Triangle Initiative (NTTI) mewakili Indonesia bersama organisasi dari 13 negara lainnya, dengan dukungan pendanaan hibah untuk menjalankan aksi pembersihan di tingkat lokal.
“Melakukan beach cleanup lebih dari sekadar memungut sampah. Kegiatan ini membuka mata kita terhadap salah satu masalah paling serius yang dihasilkan manusia yakni polusi plastik,” kata Edukator NTTI, Hizkia Rengkung dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Kerugian akibat Polusi Plastik Diperkirakan Capai Rp 44.340 Triliun Per Tahun
“Mengetahui bahwa kami melakukan aksi ini bersama ribuan relawan lain di berbagai belahan dunia memberi harapan bahwa masih banyak orang yang peduli dan ingin mengambil tindakan," imbuh dia.
Taman Nasional Bunaken berada di jantung Coral Triangle (Segitiga Karang), salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia dan menjadi habitat bagi lebih dari 70 persen spesies ikan yang telah teridentifikasi di wilayah Indo-Pasifik Barat.
Melindungi kawasan ini dari ancaman polusi plastik bukan hanya kepentingan untuk masyarakat lokal saja, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Pantai Liang sendiri tampak seperti garis pantai indah lainnya di Sulawesi Utara. Namun saat dilihat lebih dekat, sampah plastik tersebar di sepanjang pesisir dan menumpuk di sudut-sudut tersembunyi yang sering luput dari perhatian.
Baca juga: World Refill Day, Mengenal Refill Station yang Bantu Kurangi Sampah Plastik
Hizkia menyebut, selama kegiatan berlangsung relawan menemukan berbagai jenis sampah berupa helm, sandal, tas, dan botol plastik yang beberapa di antaranya berasal dari Malaysia serta China.
Usai dikumpulkan, sampah diangkut dari Bunaken ke Manado dengan dukungan Thalassa Dive Resort, PS Resort, dan North Sulawesi Watersports Association (NSWA) untuk kemudian dipilah dan dikelola secara bertanggung jawab melalui Ocean Plastic Sorting Station (OPSS) milik NTTI.
Menurut Hizkia, polusi plastik tidak terjadi dalam semalam, dan penyelesaiannya pun tidak bisa dilakukan secara instan. Aksi bersih pantai adalah langkah penting, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri.
Mengatasi akar permasalahan membutuhkan perubahan perilaku, sistem pengelolaan sampah yang lebih kuat, serta edukasi masyarakat secara berkelanjutan.
Baca juga: World Refill Day, Mengenal Refill Station yang Bantu Kurangi Sampah Plastik
Ke depan, NTTI melalui Ocean Plastic Sorting Station (OPSS), akan berkolaborasi dengan berbagai komunitas, pemerintah, dan sektor swasta di Sulawesi Utara untuk melindungi laut dari polusi plastik.
Adapun dalam kegiatan di Bunaken, lembaga ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat dan anak-anak Bunaken, siswa program School on the Beach dari NTTI, mitra resort, tamu resort, pemerintah daerah, Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), hingga media.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya