KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan jumlah orang di seluruh dunia yang terkena dampak stres panas berbahaya akibat krisis iklim melonjak drastis selama setengah abad terakhir.
Stres panas sendiri istilah untuk kondisi berbahaya ketika suhu panas menumpuk di dalam tubuh akibat suhu udara yang melonjak, kelembapan yang tinggi, dan faktor lainnya.
Ini merupakah salah satu dampak cuaca ekstrem yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia.
Melansir Phys, Senin (22/6/2026) penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change ini mengamati bagaimana tingkat stres panas melonjak drastis sejak tahun 1970-an hingga tahun 2024 lalu.
"Di setiap benua, stres panas tingkat kuat hingga ekstrem kini terjadi lebih sering," kata Rebecca Emerton peneliti utama dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts.
Sebagai contoh, pada tahun 1970-an, sebanyak 16 persen penduduk dunia mengalami setidaknya satu hari dengan stres panas ekstrem yaitu ketika suhu udara yang dirasakan tubuh mencapai minimal 46 derajat Celsius.
Baca juga: Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Lima puluh tahun kemudian, angka tersebut telah melonjak naik menjadi 22 persen.
"Angka itu mungkin terdengar tidak seberapa," kata Emerton.
"Namun, itu berarti ada tambahan sekitar satu miliar orang yang sekarang harus merasakan stres panas ekstrem, yang dulunya tidak perlu mereka alami pada tahun 1970-an," katanya lagi.
Penelitian ini menggunakan Indeks Iklim Termal Universal (UTCI). Indeks ini menggambarkan suhu yang dirasakan oleh tubuh dengan menghitung faktor-faktor seperti kelembapan udara, embusan angin, radiasi matahari, dan bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap panas.
Rata-rata suhu yang dirasakan tubuh setiap harinya terus meroket karena peristiwa stres panas kini terjadi lebih sering, lebih parah, dan bertahan lebih lama akibat pemanasan global yang disebabkan oleh ulah manusia, demikian temuan dari penelitian tersebut.
"Beberapa negara, termasuk Spanyol, Portugal, Italia, dan Prancis, sekarang merasakan suhu udara yang jauh lebih membakar, hingga lima derajat lebih panas daripada yang mereka rasakan pada tahun 1970-an," kata Emerton.
Di Prancis pada hari Senin lalu, dua anak kecil meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem kedua yang melanda negara tersebut tahun ini.
Stres panas juga semakin meluas ke wilayah-wilayah di dunia yang dulunya tidak pernah mengalami suhu sepanas ini.
Baca juga: Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
"Sebagai contoh, stres panas yang sangat kuat dengan suhu yang dirasakan tubuh minimal 38 derajat Celsius sekarang telah mencapai wilayah Amerika Utara, Inggris, dan Skandinavia," katanya.
Para peneliti juga mengamati peningkatan jumlah malam yang terus-menerus terasa sangat panas di seluruh dunia.
"Ketika malam hari terasa sangat panas sampai Anda tidak bisa merasa nyaman dan tubuh Anda tidak bisa mendinginkan suhunya sendiri, kondisi itu menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi orang-orang yang fisiknya lemah," kata Emerton.
Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar wilayah di dunia mengalami peningkatan jumlah "malam tropis". Itu merupakan kondisi ketika suhu yang dirasakan tubuh pada malam hari tidak bisa turun di bawah 20 derajat Celsius.
Penelitian ini sebenarnya hanya memeriksa data sampai tahun 2024 lalu. Namun, Emerton mengatakan bahwa gelombang panas yang sudah menghantam Eropa tahun ini menunjukkan bahwa tren bumi yang semakin memanas ini masih terus berlanjut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya