Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional

Kompas.com, 23 Juni 2026, 17:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dari kebakaran lahan gambut di Indonesia dinilai masih menyimpan tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Untuk memperbaiki akurasi data tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan studi pembakaran gambut secara terkendali di Singkawang, Kalimantan Barat.

Penelitian yang berlangsung pada 15-18 Juni 2026 itu bertujuan menghasilkan data primer mengenai emisi kebakaran gambut yang selama ini menjadi salah satu sumber utama emisi GRK nasional sekaligus sorotan global.

Baca juga: RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Wahyu Catur Adinugroho, mengatakan estimasi emisi dari kebakaran gambut selama ini masih mengandung ketidakpastian yang cukup besar karena keterbatasan data empiris di lapangan.

"Selama ini, estimasi emisi dari kebakaran gambut masih memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Melalui eksperimen lapangan yang terkendali, kami dapat mengukur parameter penting seperti kedalaman gambut terbakar, kehilangan biomassa, serta fluks gas rumah kaca, sehingga perhitungan emisi menjadi lebih akurat," ujar Wahyu dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6/2026).

Studi dilakukan di lahan gambut terdegradasi dengan tiga plot pembakaran berukuran 10 x 10 meter yang direplikasi untuk memastikan konsistensi data.

Pengukuran parameter

Peneliti mengukur berbagai parameter, mulai dari karakteristik bahan bakar alami seperti semak belukar, serasah, dan kayu mati hingga perubahan sifat fisik dan kimia gambut setelah terbakar.

Tim juga memantau emisi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O) sebelum, selama, dan setelah pembakaran menggunakan teknologi eddy flux tower serta metode closed dynamic chamber.

Menurut Peneliti Lahan Gambut dan Iklim YKAN, Nisa Novita, hasil studi ini diharapkan dapat menyempurnakan faktor emisi kebakaran gambut tropis yang selama ini menjadi dasar perhitungan emisi nasional.

Ia menilai Indonesia kerap dianggap sebagai salah satu kontributor utama emisi dari sektor lahan, terutama akibat kebakaran gambut. Namun, ketepatan perhitungan emisi masih perlu diperkuat dengan data lapangan yang lebih akurat.

Baca juga: Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir

Nisa mencontohkan, sejumlah studi sebelumnya memperkirakan kedalaman gambut yang terbakar dapat mencapai 30 sentimeter. Namun, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan angka tersebut berpotensi lebih rendah.

"Perbedaan ini menjadi sangat signifikan ketika digunakan untuk menghitung total emisi per hektare per tahun, apalagi jika dikalikan dengan luas area dan periode waktu. Karena itu, perhitungan tersebut perlu diperbaiki menggunakan data empiris yang lebih akurat, seperti yang dihasilkan dalam studi ini," kata Nisa.

Temuan penelitian tersebut diharapkan dapat mendukung sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (Measurement, Reporting and Verification/MRV) emisi GRK Indonesia, sekaligus memperkuat pelaporan dalam kerangka Konvensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC).

Selain menghitung emisi, penelitian juga mempelajari perilaku api pada lahan gambut. Selama proses pembakaran, peneliti memantau laju rambat api, intensitas kebakaran, suhu, kelembapan udara, dan kecepatan angin.

Penanganan karhutla

Pakar pengelolaan kebakaran hutan dan lahan, Israr Albar, mengatakan informasi tersebut penting untuk meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran di lapangan, terutama pada ekosistem gambut yang memiliki karakteristik berbeda dengan lahan mineral.

"Informasi ini sangat membantu, terutama bagi Manggala Agni, untuk memahami arah dan kecepatan pergerakan api, serta karakteristiknya. Dengan demikian, pemadaman dapat dilakukan lebih efektif sekaligus menjaga keselamatan petugas, terutama di lahan gambut yang aksesnya sering kali sulit," ujarnya.

Kalimantan Barat dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan gambut. Studi dilakukan pada area semak belukar dan hutan sekunder terdegradasi dengan mempertimbangkan riwayat kebakaran, tipe tutupan lahan, dan kemudahan akses penelitian.

Baca juga: Luas Karhutla Januari hingga Mei 2026 Tembus 81.000 Hektare

BRIN dan YKAN menyatakan pembakaran dilakukan secara terbatas, terkendali, dan berada dalam pengawasan ketat sesuai prosedur keselamatan penelitian.

Pengambilan data direncanakan berlanjut selama musim kemarau hingga diperoleh data yang dinilai memadai untuk mendukung penyempurnaan inventarisasi emisi GRK nasional dan strategi pengendalian kebakaran berbasis sains.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau