Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DEFORESTASI di Indonesia tidak pernah menjadi cerita masa lalu. Di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat, tekanan terhadap hutan dan lahan produktif tetap berlangsung—baik secara perlahan melalui alih fungsi, maupun secara terbuka melalui ekspansi ekonomi.
Dalam situasi ini, pertanyaan tentang dari mana produksi pangan akan bertumpu menjadi semakin mendesak.
Keterbatasan lahan pertanian tidak lagi sekadar isu teknis, melainkan persoalan struktural.
Ketika sawah menyusut dan ruang produksi terdesak, pilihan menjadi semakin sempit. Di sinilah kebutuhan akan “lahan baru” mulai muncul sebagai wacana kebijakan.
Perhatian kemudian beralih ke ruang-ruang yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Salah satunya adalah lahan bekas tambang—ruang yang selama ini identik dengan kerusakan, tetapi kini mulai dilihat sebagai peluang.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan lahan bekas tambang memang menunjukkan perkembangan.
Di Kepulauan Bangka Belitung, lahan eks tambang timah yang luasnya diperkirakan mencapai lebih dari 120 ribu hektare mulai direhabilitasi dan sebagian dimanfaatkan untuk komoditas seperti kopi liberika yang relatif adaptif terhadap kondisi tanah marginal.
Di wilayah lain, lahan pascatambang dimanfaatkan untuk tanaman atsiri seperti serai wangi atau kayu putih, yang terhubung dengan industri pengolahan dan memberi nilai tambah di tingkat lokal.
Pada titik ini, muncul optimisme baru: bahwa lahan yang rusak tidak selalu kehilangan masa depannya.
Dengan pendekatan yang tepat, dapat kembali produktif dan bahkan membuka peluang ekonomi baru. Namun, optimisme ini perlu dibaca dengan hati-hati.
Baca juga: Terbukanya Pagar DPR dan Kabar Kemenangan Mahasiswa
Ketika pemanfaatan lahan bekas tambang mulai diposisikan sebagai bagian dari solusi, ada risiko bahwa persoalan yang lebih mendasar justru terpinggirkan.
Deforestasi tidak berhenti hanya karena kita menemukan lahan alternatif.
Alih-alih menggantikan, kedua proses ini bisa berjalan bersamaan—hutan tetap berkurang, sementara lahan rusak berusaha dipulihkan.
Di sinilah batas antara solusi dan ilusi menjadi penting untuk dipahami.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya