Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 25 Juni 2026, 15:17 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

MOROWALI, KOMPAS.com – Pertumbuhan industri nikel dalam satu dekade terakhir membawa perubahan besar bagi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Di balik pertumbuhan ekonomi yang pesat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari infrastruktur, kebutuhan tenaga kerja terampil, hingga pengelolaan lingkungan.

Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf mengatakan, aktivitas industri nikel telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah. Salah satu indikatornya terlihat dari lonjakan pendapatan asli daerah (PAD) yang menjadi sumber pembiayaan berbagai program pembangunan dan pelayanan publik.

Data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan menunjukkan, realisasi PAD Kabupaten Morowali meningkat dari Rp 74,44 miliar pada 2015 menjadi Rp 743,39 miliar pada 2025 atau naik hampir sepuluh kali lipat dalam satu dekade.

"PAD kami meningkat sehingga bisa membangun semua fasilitas layanan masyarakat," ujar Iksan kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Ia melanjutkan, manfaat pertumbuhan industri tidak hanya dirasakan wilayah yang menjadi pusat kegiatan ekonomi. Melalui mekanisme distribusi anggaran secara prorata, pendapatan daerah juga dialokasikan untuk mendukung pembangunan di seluruh kecamatan, termasuk wilayah kepulauan yang memiliki kontribusi retribusi relatif kecil.

Iksan menjelaskan, pembangunan di Morowali juga tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah. Sejumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan industri turut berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur yang belum dapat dibiayai APBD.

"Ketika ada kebutuhan infrastruktur yang belum terjangkau anggaran kabupaten, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan industri ikut turun tangan membiayainya," kata dia.

Perbaikan infrastruktur jadi prioritas

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Morowali saat ini adalah kondisi infrastruktur di Kecamatan Bahodopi, kawasan yang menjadi pusat industri nikel serta wilayah dengan pertumbuhan penduduk paling pesat.

Iksan mengakui, tingginya aktivitas industri berdampak pada kondisi jalan di kawasan tersebut. Oleh karena itu, Pemkab menyusun target konkret perbaikan jalan yang melibatkan pemerintah provinsi dan pusat dengan target rampung pada 2027.

Selain perbaikan jalan, pemerintah juga mendorong pembenahan sistem drainase dan parit guna meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan kawasan industri.

Di sektor ketenagakerjaan, Pemkab Morowali tengah menyiapkan program pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) untuk meningkatkan kompetensi masyarakat lokal agar dapat lebih banyak terserap di sektor industri.

"Kami akan membuat pelatihan BLK. Targetnya, warga lokal bisa mengoperasikan alat-alat berat yang dibutuhkan industri, seperti dump truck, ekskavator, wheel loader, dan sejenisnya. Dengan begitu mereka punya keahlian untuk masuk dan bersaing di kawasan industri," ujar Iksan.

Pengelolaan sampah dan dukungan bagi nelayan

Di bidang lingkungan, pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama Pemkab Morowali. Khusus di Bahodopi, volume sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 80 ton per hari seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Morowali telah membangun insinerator di Desa Baho Makmur, fasilitas pemilahan sampah di Labota, serta tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di sejumlah lokasi.

"(Inisiatif tersebut) sudah banyak berjalan di beberapa titik. Di Labota, kami bangun pemilahan sampah. Perusahaan pun hadir membantu kami untuk membuatkan programnya," ujar Iksan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau