Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global

Kompas.com, 25 Juni 2026, 16:36 WIB
Monika Novena,
Ni Luh Made Pertiwi F.

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Para pemimpin kota dari seluruh dunia berkumpul untuk mengatasi tekanan yang makin berat akibat pertumbuhan pusat data yang terlalu cepat.

Melansir Know ESG, Rabu (24/6/2026) perwakilan dari 40 kota besar termasuk London, Melbourne, Phoenix, Barcelona, Chennai, dan Boise telah sepakat untuk bekerja sama melalui perjanjian baru yang diluncurkan, bernama Pakta Pusat Data Perkotaan Global (Global Urban Data Centres Pact).

Gerakan ini diperkenalkan dalam acara London Climate Action Week.

Kekhawatiran terhadap pusat data

Gerakan ini menunjukkan kekhawatiran yang makin besar tentang bagaimana perluasan bangunan internet dan AI ini mulai merusak jaringan listrik, menguras pasokan air bersih, dan mengganggu warga lokal.

Demam kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan akan komputer berspesifikasi tinggi melonjak drastis. Akibatnya, banyak pengusaha menanam modal besar-besaran untuk membangun gedung-gedung pusat data baru di seluruh dunia.

Meskipun gedung-gedung ini sangat penting untuk mendukung layanan internet dan ekonomi digital, para pemimpin kota mengeluhkan bahwa pertumbuhannya yang terlalu cepat memicu banyak masalah baru yang sulit diatur oleh hukum atau aturan yang ada saat ini.

Baca juga: Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat

Perjanjian baru ini bertujuan untuk membuat dasar aturan bersama yang bisa dipakai oleh kota-kota di dunia agar bisa mengatur pembangunan pusat data dengan lebih rapi.

Hal-hal yang menjadi fokus utama meliputi penggunaan energi yang lebih bersih, penghematan sumber daya, serta penataan letak gedung agar tidak mengganggu tata ruang kota.

Meskipun aturan ini dibuat bersama, setiap kota tetap dibebaskan untuk mengubah dan menyesuaikan panduan tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah masing-masing.

Tekanan pada sistem listrik dan air

Melbourne adalah salah satu kota yang sudah mulai merasakan dampak buruk dari perluasan bangunan internet ini. Menurut Wali Kota Melbourne, Nicholas Reece, kotanya saat ini menampung sekitar 50 gedung pusat data skala besar.

Kebutuhan listrik gedung-gedung tersebut diperkirakan akan melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan, dan berpotensi memakan jatah sebagian besar total setrum listrik di kota tersebut.

Penggunaan air juga menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan. Sistem pendingin yang digunakan oleh banyak pusat data membutuhkan air dalam jumlah yang sangat masif. Hal ini menciptakan tekanan tambahan pada pasokan air bersih kota yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh rumah tangga warga dan sektor bisnis lainnya.

Pemerintah kota memperingatkan bahwa cepatnya perputaran modal dari para pengusaha bisa memicu persaingan tidak sehat antar-pemerintah daerah. Demi berebut menarik investor agar mau membangun proyek di wilayah mereka, beberapa pemerintah daerah dikhawatirkan sengaja melonggarkan pengawasan lingkungan dan mengorbankan target kelestarian alam jangka panjang.

Di kota Phoenix, di mana saat ini ada ratusan data center yang sudah beroperasi maupun yang baru direncanakan, kekhawatiran warga sudah meluas bukan cuma soal masalah listrik saja. Wali Kota Phoenix Kate Gallego, mencatat bahwa kebutuhan listrik akibat proyek-proyek baru ini bisa melonjak sangat drastis dalam beberapa tahun ke depan.

Warga sekitar juga mulai memprotes masalah kebisingan suara mesin, penggunaan lahan, pembangunan gedung penyimpanan baterai raksasa, serta lokasi proyek besar tersebut yang dibangun terlalu dekat dengan pemukiman warga.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau