Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen

Kompas.com, 26 Juni 2026, 08:44 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dinilai menjadi jenis pembangkit yang paling rentan terhadap dampak kenaikan suhu global akibat krisis iklim.

Peningkatan temperatur udara diperkirakan dapat menurunkan performa pembangkit, terutama kapasitas generator, hingga 3-4 persen pada periode 2024-2026.

Kandidat doktor Delft University of Technology (TU Delft), Hariadi Aji, mengatakan penurunan kinerja tersebut berpotensi menambah kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan karena kapasitas yang hilang harus digantikan oleh pembangkit baru.

"Apabila kita lakukan fungsi yang sama di perencanaan RUPTL PLN (2025-2034) maupun RUKN ESDM (2025-2060), maka kita bisa lihat loss-nya akan sekitar 2,8-3 persen. Walaupun terlihat kecil, tapi secara absolut akan mencapai 4-12 gigawatt (GW) di tahun 2034 maupun 12 GW di tahun 2060. Itu angka yang sangat besar untuk investasi hanya untuk mengkompensasi dampak dari kenaikan temperatur ini," ujar Hariadi saat mempresentasikan hasil riset doktoralnya dalam sebuah webinar, Kamis (25/6/2026).

Baca juga: Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU

Menurut Hariadi, setelah PLTG, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara juga termasuk yang rentan mengalami penurunan kinerja akibat meningkatnya suhu udara.

Ia menjelaskan, kenaikan temperatur tidak hanya memengaruhi sisi pembangkitan, tetapi juga meningkatkan konsumsi listrik masyarakat. Analisis yang menggabungkan data beban puncak kelistrikan provinsi dengan data temperatur menunjukkan setiap daerah memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap perubahan suhu.

Bali menjadi provinsi dengan sensitivitas tertinggi. Kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius diperkirakan dapat meningkatkan beban listrik hingga sekitar 10 persen.

"Kita melihat sensitivitas beban listrik terhadap kenaikan temperatur berbeda-beda di setiap provinsi, dan Bali termasuk yang paling tinggi," katanya.

Tren kenaikan suhu

Temuan tersebut dinilai semakin relevan mengingat data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren suhu permukaan di Indonesia terus meningkat sejak 1981 tanpa menunjukkan kecenderungan menurun.

Selain kenaikan suhu, Hariadi juga mengingatkan bahwa meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat krisis iklim membuat sistem ketenagalistrikan nasional semakin rentan mengalami gangguan.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pulau Sumatera menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan hidrometeorologi tertinggi.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah gangguan kelistrikan terjadi akibat cuaca ekstrem, mulai dari robohnya menara transmisi di Aceh pada November 2025, putusnya konduktor di Jambi yang memicu pemadaman listrik hampir di seluruh Sumatera pada Mei 2026, hingga robohnya menara transmisi di Sumatera Utara pada Juni 2026.

Hariadi menilai pemadaman massal yang terjadi di Sumatera pada Mei lalu menunjukkan bahwa dampak cuaca ekstrem dapat memicu gangguan sistem yang kompleks.

Baca juga: Kapasitas PLTG Dunia Diproyeksikan Melonjak

"Yang terjadi di Sumatera pada 22 Mei itu adalah gangguan yang tidak sederhana sehingga menyebabkan ketidakstabilan sistem, terjadi cascading outage atau pemadaman bertingkat hingga akhirnya sistem mengalami splitting dan blackout," ujarnya.

Untuk meningkatkan ketahanan sistem ketenagalistrikan terhadap dampak krisis iklim, Hariadi merekomendasikan penguatan infrastruktur transmisi melalui penggunaan material yang lebih tangguh, terutama di wilayah yang rawan bencana seperti Sumatera.

Selain itu, menurut dia, pengembangan sistem penyimpanan energi berbasis baterai, perangkat lunak untuk respons beban (*demand response*), serta peningkatan kemampuan prakiraan beban dan bencana juga perlu menjadi prioritas.

"(Perlu juga) ada supporting software, itu demand response ataupun forecasting, peramalan beban ke depan dan peramalan bencana atau persiapan terhadap bencana yang lebih baik. Rekomendasi utama yang saya sampaikan adalah secara teknis kita perlu juga mengerti tentang climate hazard maupun vulnerability, sehingga risikonya bisa lebih dimitigasi lebih awal," kata Hariadi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau