KOMPAS.com - Dewan Iklim Denmark mengusulkan kenaikan harga tiket pesawat sebagai salah satu langkah untuk menekan emisi gas rumah kaca dari sektor penerbangan.
Kebijakan tersebut dinilai perlu karena perjalanan udara masih menjadi salah satu sektor transportasi dengan emisi karbon yang sulit ditekan, sementara teknologi rendah emisi belum tersedia secara matang.
Ketua Dewan Iklim Denmark, Peter Møllgaard, mengatakan dekarbonisasi sektor penerbangan jauh lebih kompleks dibandingkan transportasi darat yang kini mulai beralih ke kendaraan listrik.
Baca juga: Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
"Dalam transportasi darat, kita secara umum mengetahui apa yang dibutuhkan, yaitu elektrifikasi. Sayangnya, hal itu tidak berlaku di bidang penerbangan, di mana semua pilihan teknologi memiliki tantangan yang berbeda," ujar Møllgaard, dikutip dari Anadolu, Jumat (26/6/2026).
Menurut Dewan Iklim Denmark, harga tiket pesawat saat ini belum mencerminkan dampak lingkungan yang ditimbulkan penerbangan. Karena itu, penumpang dinilai perlu menanggung biaya yang lebih besar sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi sektor tersebut.
Anggota Dewan Iklim Denmark, Marie Munster, mengatakan hingga kini belum ada satu teknologi yang mampu menjadi solusi tunggal untuk mengurangi emisi penerbangan.
"Ini bukan seperti mobil listrik yang tiba-tiba muncul. Ini masalah yang lebih sulit dipecahkan, dan kami tidak melihat satu solusi mujarab," katanya.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut pada akhirnya merupakan persoalan prioritas antara mempertahankan harga tiket murah atau mengurangi dampak lingkungan dari penerbangan.
"Jadi, ini soal prioritas. Apakah kita ingin membayar lebih, atau kita ingin mengurangi penerbangan? Jelas bahwa ada kebutuhan yang lebih besar bagi pihak pencemar untuk membayar," ujar Munster.
Di tengah upaya menekan emisi, bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) masih dianggap sebagai solusi paling realistis dalam jangka pendek. Namun, adopsinya masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi biaya.
Dalam Kongres SAF di Amsterdam pekan lalu, Senior Vice President KLM Royal Dutch Airlines, Zita Schellekens, mengungkapkan banyak penumpang mengaku peduli terhadap perubahan iklim, tetapi hanya sedikit yang bersedia membayar lebih untuk menggunakan SAF.
"Dari riset konsumen, kami tahu bahwa banyak pelanggan peduli tentang perubahan iklim. Mereka menyatakan ada keinginan membayar solusi yang lebih berkelanjutan. Pada saat yang sama, kami melihat tingkat konversi pelanggan yang secara sukarela memilih SAF hanya sekitar 0,5 persen hingga 0,8 persen," ujar Schellekens, dikutip dari Aerospace Global News.
Menurut dia, harga SAF yang beberapa kali lebih mahal dibandingkan bahan bakar jet konvensional membuat mayoritas penumpang tetap memilih tiket dengan harga termurah.
KLM bahkan sempat menguji coba penjualan tiket dengan kontribusi SAF penuh pada rute London City dan Hamburg. Skema tersebut menambah harga tiket sekitar 20-40 euro atau sekitar Rp 400.000 hingga Rp 800.000, tergantung rute.
Baca juga: Pertamina SAF Mengudara, Siap Jadi Bahan Bakar Bersih Dunia Penerbangan
Namun, hasil uji coba menunjukkan banyak pelanggan tidak memahami alasan kenaikan harga tersebut. Pada rute yang memiliki banyak maskapai pesaing, sebagian penumpang justru beralih ke maskapai lain dengan tarif lebih murah.
Selain faktor harga, maskapai penerbangan di Eropa juga menghadapi tantangan regulasi yang semakin ketat terkait klaim lingkungan. Pengawasan terhadap praktik *greenwashing* membuat perusahaan harus lebih berhati-hati dalam mempromosikan produk penerbangan rendah emisi.
Senior Vice President Scandinavian Airlines (SAS), Mads Brandstrup, mengaku kondisi tersebut membuat maskapai kesulitan mengomunikasikan manfaat lingkungan dari penggunaan SAF kepada pelanggan.
"Bagaimana kita bisa berdiskusi dengan pelanggan jika kita bahkan tidak diizinkan untuk menyebut kata 'hijau'?" ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya