Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim

Kompas.com, 26 Juni 2026, 15:24 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lembaga riset MSCI Institute mengungkapkan ketergantungan wilayah Asia terhadap penggunaan pendingin ruangan (AC) untuk menghadapi cuaca panas ekstrem justru bisa makin memperburuk krisis iklim.

Mengapa demikian?

Melansir Eco Business, Kamis (25/6/2026) penggunaan AC itu sendiri diperkirakan dapat menyaingi besarnya kebutuhan listrik gedung pusat data untuk kecerdasan buatan.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan jumlah unit AC di seluruh dunia akan melonjak tiga kali lipat, dari sekitar 1,6 miliar unit pada tahun 2016 menjadi 5,6 miliar unit pada tahun 2050.

Lonjakan besar ini didorong oleh tingginya permintaan dari China, India, dan Indonesia.

Baca juga: AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?

Nah, mesin-mesin AC yang mendapatkan pasokan listrik dari pembangkit berbahan bakar batu bara atau gas yang kotor justru akan menghasilkan lebih banyak polusi gas rumah kaca.

Laporan itu menambahkan bahwa jumlah polusinya bahkan telah menembus lebih dari 1 miliar ton karbon dioksida dan gas berbahaya lainnya pada tahun 2022.

"Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan yang menjadi contoh nyata dari kegagalan adaptasi lingkungan. Apakah penggunaan AC ini akan membantu manusia bertahan hidup atau malah merusak upaya penyelamatan bumi, semuanya sangat bergantung pada bagaimana risiko-risiko ini dikelola," tulis laporan MSCI Insights.

"Bagi para investor, tingginya permintaan AC menjadi dua tanda sekaligus yakni tanda seberapa besar kebutuhan manusia untuk bertahan hidup di dunia yang makin panas, sekaligus tanda adanya risiko kerugian bisnis dalam proses peralihan ke energi bersih jika masalah ini tidak diurus dengan benar," tambah laporan tersebut.

Asia jadi pengguna AC terbanyak di dunia

Wilayah Asia diperkirakan akan terus menjadi pengguna AC terbanyak di dunia. Lembaga MSCI Insights menjelaskan hal ini dengan mengutip data dari PBB yang menunjukkan bahwa suhu udara di Asia memanas dua kali lebih cepat daripada rata-rata kenaikan suhu di bagian bumi lainnya.

Selain itu, datangnya fenomena cuaca El Niño yang dipicu oleh memanasnya suhu air laut di Samudra Pasifik diperkirakan akan membuat suhu udara di seluruh dunia melonjak jauh lebih panas lagi mulai dari sekarang hingga bulan Agustus mendatang.

Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Peringatan tersebut disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Meskipun perusahaan-perusahaan di Asia memproduksi hampir separuh (48 persen) dari seluruh produk AC di dunia, mereka menyumbang penggunaannya lebih dari dua pertiga (68 persen) dari total perusahaan yang membangun bisnis AC sebagai jalan keluar untuk mengatasi kenaikan suhu panas. Hal ini ditunjukkan oleh riset dari MSCI.

Sebaliknya, jarang ada perusahaan di bagian dunia lain yang menganggap AC sebagai cara untuk bertahan hidup dari perubahan iklim. Di Amerika Serikat, perusahaan AC mereka menyumbang 22 persen dari total produsen dunia, tetapi hanya 9 persen dari perusahaan tersebut yang menyebut AC sebagai alat adaptasi cuaca panas.

Data statistik ini mencerminkan bahwa tingkat kekhawatiran terhadap risiko panas ekstrem di wilayah lain masih lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Asia Pasifik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau