PLTS yang berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR) itu menekan biaya listrik operasional hingga 50 persen, dari Rp3 juta menjadi Rp 1,5 juta per bulan. Selain listrik, operasional kolam-kolam ikan juga boros air.
Pengurus RT berencana membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dari dana CSR untuk mendaur ulang air bekas kolam ikan agar bisa digunakan ulang.
"Jadi, kalau selama ini air (di kolam dan selokan) itu kan kami dari sumur, ada air tanah dari belakang kami tarik dengan pipa dan disaring dulu. Konsumsi air dan listriknya sangat besar," tutur Waluyo.
Perawatan kolam-kolam ikan, termasuk pembersihan filternya, membutuhkan air tanah dalam jumlah besar.
IPAL diharapkan bisa mendaur ulang air limbah rumah tangga dan genangan usai hujan untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya pendukung pemeliharaan budi daya di kolam-kolam ikan.
"Kebanyakan ini kan lebih banyak PAM ya. Ya kalau pakai PAM kan berarti kan mahal. Kami kan punya penampungan air hujan, tong-tong bir di depan itu dapat banyak air untuk menyiram tanaman, enggak bisa untuk ikan, karena kalau air hujan asamnya tinggi cepet untuk jadi amoniak, nitrogennya kan tinggi," ucapnya.
Taufiq mengatakan, pengambilan air tanah secara berlebihan untuk kolam-kolam ikan dapat memicu penurunan muka tanah, yang meningkatkan risiko banjir. Oleh karena itu, berbagai inovasi, seperti IPAL, dimanfaatkan untuk mengurangi pengambilan air tanah.
Ia membantah kolam ikan di dalam selokan akan menghambat air mengalir, yang bisa menimbulkan banjir.
"Banyak yang bertanya, apakah ini menghambat air? Jawabannya, sama sekali tidak. Kolam ini dibangun di atas struktur U-Ditch, jadi ruang di bawah sana tetap kosong dan lapang. Air tetap mengalir deras dan bebas hambatan," ujar PNS Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga mengambil kuliah jurusan Geodesi di ITB ini.
Di dalam selokan, juga terdapat resapan biopori untuk mengoptimalkan penyerapan air ke dalam tanah. Resapan biopori pada selokan juga dipakai pembuangan sampah organik, yang mendatangkan organisme penting, terutama cacing untuk menggemburkan tanah dan mengoptimalkan serapan air hujan.
Resapan biopori tersebut juga dapat mengusir mobil yang parkir sembarangan di jalan gang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya