JAKARTA, KOMPAS.com - Di sebuah gang sempit di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, deretan kolam ikan berjejer rapi menghiasi lingkungan RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, yang asri.
Di dalam kolam-kolam ini, ikan hias, lele, dan nila berkembang biak dengan perawatan ekstra. Setiap kali masa panen tiba, ikan-ikan segar tersebut justru dibagikan secara gratis kepada kelompok warga yang paling membutuhkan, yaitu, para lansia, ibu hamil, dan balita, dengan total 26 orang dalam pembagian terakhir kali.
"Namanya 'kolam gizi', bukan sekadar kolam ikan. Karena hasilnya memang didedikasikan sepenuhnya untuk gizi warga kami," ujar Waluyo, pengurus sarana dan prasarana lingkungan setempat saat ditemui di lokasi, Sabtu (13/6/2026).
Baca juga: Kelompok Tani Kampung Bayam Olah Gulma dan Sampah Pasar Jadi Pupuk untuk Urban Farming
Daun pepaya yang dipetik dari urban farming warga, dicampur dengan pakan lele sebagai zat aditif untuk meningkat pertumbuhan bobot ikan dan mencegah angka kanibalisme.
Daun pepaya akan diberikan ketika ikan lele mulai agresif sebagai pertanda akan menunjukkan sifat kanibalnya. Dalam sehari, pakan diberikan kepada ikan pada pagi dan malam.
"Jadi, kami (saat) malam harus kasih makan itu, kami mencari daun pepaya, kami tebar saja di situ untuk makan," tutur Waluyo.
Kalau lele dan nila untuk dikonsumsi sebagai bagian dari ketahanan pangan di tingkat RT, sebuah akuarium ikan koi di sebelah 'kolam gizi' hanya untuk hiasan belaka. Namun, harga pakan ikan hias per kilonya lebih mahal tiga kali lipat dibandingkan lele dan nila.
Di tengah permukiman padat dalam gang, Waluyo membersihkan kolam-kolam ikan pada malam hari agar tidak mengangu kenyamanan warga sekitar.
Ia tidak sepenuhnya menguras kolam-kolam ikan dan menyisakan sejengkal saat membersihkan kacanya, sebelum keran pembuangan ditutup dan airnya diisi ulang.
"Jadi, kalau kami menguras itu bukan berarti ikan dipindahkan. Tetap saja di situ ikannya, airnya kami kuras pelan-pelan. Kalau menguras kondisinya (tengah) malam. Portal sudah ditutup, tidak ada motor lewat, jadi tidak mengganggu jalan," ucapnya.
Di sisi lain, budi daya ikan dalam gang juga dilakukan pada selokan dengan sistem bertingkat (double decker). Bagian bawah tetap berfungsi sebagai saluran drainase air hujan (U-Ditch). Sedangkan bagian atas disulap menjadi konsumsi, seperti lele, nila, serta bawal.
Budi daya pada selokan yang memanjang dari depan rumah Ketua RT 08 RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, ditujukan untuk dijual.
Ini termasuk diolah dalam berbagai produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dikembangkan para ibu di sana, seperti lele marinasi. Operasional kolam-kolam ikan yang harus menyala 24 jam menyedot konsumsi listrik dalam jumlah besar.
Baca juga: Dari IT ke Urban Farming, Kisah Dewi Menata Hidup di Cibinong lewat Sayur dan Ternak Ayam
Untuk meminimalisir pengeluaran biaya energi, pengurus RT memanfatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) on grid, yang terhubung dengan jaringan PLN.
"Untungnya sekarang ada PLTS. Jadi kalau siang kami pakai tenaga surya, baru kalau malam beralih ke listrik PLN. Ini sangat membantu menekan pengeluaran kas RT," ujar Waluyo.
PLTS yang berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR) itu menekan biaya listrik operasional hingga 50 persen, dari Rp3 juta menjadi Rp 1,5 juta per bulan. Selain listrik, operasional kolam-kolam ikan juga boros air.
Pengurus RT berencana membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dari dana CSR untuk mendaur ulang air bekas kolam ikan agar bisa digunakan ulang.
"Jadi, kalau selama ini air (di kolam dan selokan) itu kan kami dari sumur, ada air tanah dari belakang kami tarik dengan pipa dan disaring dulu. Konsumsi air dan listriknya sangat besar," tutur Waluyo.
Perawatan kolam-kolam ikan, termasuk pembersihan filternya, membutuhkan air tanah dalam jumlah besar.
IPAL diharapkan bisa mendaur ulang air limbah rumah tangga dan genangan usai hujan untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya pendukung pemeliharaan budi daya di kolam-kolam ikan.
"Kebanyakan ini kan lebih banyak PAM ya. Ya kalau pakai PAM kan berarti kan mahal. Kami kan punya penampungan air hujan, tong-tong bir di depan itu dapat banyak air untuk menyiram tanaman, enggak bisa untuk ikan, karena kalau air hujan asamnya tinggi cepet untuk jadi amoniak, nitrogennya kan tinggi," ucapnya.
Taufiq mengatakan, pengambilan air tanah secara berlebihan untuk kolam-kolam ikan dapat memicu penurunan muka tanah, yang meningkatkan risiko banjir. Oleh karena itu, berbagai inovasi, seperti IPAL, dimanfaatkan untuk mengurangi pengambilan air tanah.
Ia membantah kolam ikan di dalam selokan akan menghambat air mengalir, yang bisa menimbulkan banjir.
"Banyak yang bertanya, apakah ini menghambat air? Jawabannya, sama sekali tidak. Kolam ini dibangun di atas struktur U-Ditch, jadi ruang di bawah sana tetap kosong dan lapang. Air tetap mengalir deras dan bebas hambatan," ujar PNS Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga mengambil kuliah jurusan Geodesi di ITB ini.
Di dalam selokan, juga terdapat resapan biopori untuk mengoptimalkan penyerapan air ke dalam tanah. Resapan biopori pada selokan juga dipakai pembuangan sampah organik, yang mendatangkan organisme penting, terutama cacing untuk menggemburkan tanah dan mengoptimalkan serapan air hujan.
Resapan biopori tersebut juga dapat mengusir mobil yang parkir sembarangan di jalan gang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya