KOMPAS.com - Gelombang panas yang sangat parah sedang melanda sebagian besar wilayah Eropa. Peristiwa ini memicu peringatan kembali bahwa suhu panas yang ekstrem sangat berbahaya bagi kesehatan anak-anak dan orang lanjut usia.
Melansir Phys, Rabu (24/6/2026) pemberitahuan kesehatan masyarakat biasanya lebih sering berfokus pada lansia.
Namun, meninggalnya dua anak di dalam mobil di Prancis baru-baru ini menjadi pengingat yang sangat menyedihkan bahwa anak-anak yang masih sangat muda juga berada dalam bahaya besar.
Para ilmuwan menyatakan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia akan membuat gelombang panas terjadi lebih sering, lebih panas, dan bertahan lebih lama.
Ketika suhu melonjak sangat tinggi, orang tua maupun anak-anak memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mengatur suhu tubuh mereka, lebih sedikit mengeluarkan keringat, dan biasanya bergantung pada orang lain untuk merawat mereka.
Baca juga: Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Menurut laporan wilayah Eropa tahun 2026 dari lembaga kesehatan The Lancet Countdown, gelombang panas memberikan dampak buruk yang jauh lebih besar pada bayi di bawah usia 1 tahun dan orang-orang di atas usia 65 tahun.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa paparan gelombang panas pada lansia melonjak drastis sebesar 266 persen selama tahun 2015–2024 dibandingkan dengan tahun 1991–2000. Sementara untuk bayi, angkanya naik sebesar 121 persen.
Seorang ahli wabah penyakit asal Prancis, Noemie Letellier, mengatakan bahwa orang lanjut usia menghadapi dampak paling buruk dari panas ekstrem karena adanya keterbatasan fisik serta berbagai faktor sosial, seperti kemiskinan, kesepian, dan ketergantungan pada orang lain.
Jacques Boddaert, kepala bagian perawatan lansia di Rumah Sakit Universitas Pitie-Salpetriere di Paris, mengatakan ada beberapa hal yang mengubah cuaca panas menjadi sebuah siksaan yang nyata bagi para pasien ini.
Salah satu penyebabnya adalah, makin tua usia seseorang, makin sulit bagi tubuh mereka untuk mengatur dan mengendalikan suhunya sendiri.
"Rasa haus juga makin berkurang, dan mereka biasanya baru merespons setelah tubuhnya telanjur mengalami dehidrasi parah," kata Boddaert.
Penyakit menahun yang lebih sering diidap oleh lansia juga bisa membuat panas ekstrem menjadi jauh lebih berbahaya.
Beberapa jenis obat, seperti obat untuk penyakit jantung, memiliki sifat membuang cairan tubuh yang bisa memicu masalah kesehatan serius saat cuaca sangat panas.
"Dan jika orang-orang yang biasanya merawat lansia tersebut kebetulan sedang pergi maka situasinya bisa menjadi sangat berbahaya," Boddaert memperingatkan.
Apalagi tidak semua orang lanjut usia berada dalam kondisi yang sama.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya