Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia

Kompas.com, 29 Juni 2026, 15:33 WIB
Monika Novena,
Ni Luh Made Pertiwi F.

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

Menurut analisis tim peneliti, pembakaran batu bara menyumbang antara 43 hingga 54 persen polusi yang mencapai area tinggi tersebut. Sementara itu, polusi langsung dari pabrik peleburan logam hanya berpengaruh kecil.

Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun Pegunungan Himalaya mampu menahan sebagian besar polusi yang berukuran besar dan berat di dataran rendah, partikel halus dari pembakaran batu bara ternyata bisa terbang jauh lebih tinggi dan lebih jauh lewat udara.

Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara

Bagaimana polusi melewati pegunungan

Penelitian ini menunjukkan bahwa musim hujan di India menjadi penyebab utama polusi bisa terbawa sangat jauh.

Selama musim hujan, kumpulan udara bergerak ke utara dari Asia Selatan dan masuk melewati lembah-lembah yang dalam, termasuk Ngarai Besar Yarlung Tsangpo, sebelum akhirnya menyeberangi pegunungan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa perputaran udara ini membuat partikel halus dari batu bara bisa mencapai tempat yang sangat tinggi, lalu jatuh ke bumi bersama awan, kabut, dan air hujan.

Sebaliknya, polusi dari pabrik peleburan logam biasanya berbentuk partikel yang lebih besar. Partikel ini tetap berada di dekat permukaan tanah dan lebih mudah jatuh atau hilang dari udara sebelum sempat melewati pegunungan.

Selain itu, bentuk alam dan tanaman di sekitar juga memengaruhi tempat polusi menumpuk. Hutan lebat di lereng sebelah selatan menyaring partikel di udara dan membilasnya ke lumut saat hujan turun.

Sementara itu, lereng sebelah utara yang lebih kering memiliki curah hujan yang lebih sedikit dan tanaman yang lebih jarang, sehingga lumut di sana langsung merekam polusi yang turun dari atmosfer.

Dampak bagi Dataran Tinggi Tibet

Dataran Tinggi Tibet sering dijuluki sebagai "Kutub Ketiga" karena memiliki cadangan es terbesar di dunia di luar wilayah kutub. Tempat ini juga berperan penting dalam mengatur iklim Asia dan menyediakan air bersih bagi miliaran orang.

Meskipun wilayah ini jauh lebih bersih daripada daerah industri, temuan baru menunjukkan bahwa tempat ini tidak sepenuhnya aman dari dampak aktivitas manusia.

Baca juga: Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun

Logam berbahaya seperti timbal, arsenik, dan nikel bisa menumpuk di tanah, tanaman, serta aliran air. Logam-logam ini dapat bertahan dalam waktu lama dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga bisa membahayakan hewan liar maupun penduduk setempat.

Logam berbahaya seperti timbal, arsenik, dan nikel bisa menumpuk di tanah, tanaman, serta aliran air. Logam-logam ini dapat bertahan dalam waktu lama dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga bisa membahayakan hewan liar maupun penduduk setempat.

Penelitian ini tidak mengukur dampak lingkungan secara langsung. Namun bukti bahwa polusi batu bara telah mencapai Dataran Tinggi Tibet menunjukkan pentingnya memahami bagaimana zat berbahaya ini dapat merusak ekosistem yang rapuh serta masyarakat yang bergantung padanya.

Temuan ini juga dapat membantu para ilmuwan membuat perkiraan yang lebih baik tentang bagaimana polusi bergerak di udara. Dengan memahami kapan dan bagaimana polusi melewati Himalaya, ilmuwan bisa menilai kualitas udara dan penumpukan zat berbahaya di pegunungan tinggi.

Penilaian bisa dilakukan dengan lebih akurat terutama karena penggunaan energi, aktivitas industri, dan perubahan iklim terus mengubah pergerakan udara di seluruh Asia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau