Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gajah Indro Ditemukan Tewas di Tesso Nilo, Sempat Alami Komplikasi

Kompas.com, 30 Juni 2026, 13:21 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Balai Taman Nasional Tesso Nilo mengumumkan kematian gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) jantan bernama Indro di Camp Elephant Flying Squad, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Riau. Indro ditemukan tak bernyawa pada Senin (29/6/2026) pukul 03.45 WIB.

"Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar KSDA Riau dan Balai TN Tesso Nilo akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth (periode puncak hormonal/agresivitas tinggi pada gajah jantan)," tulis Balai TNTN dalam keterangannya, Senin.

Balai TN Tesso Nilo menjelaskan, mulanya Indro mengalami awal fase musth pada 25 April–6 Mei 2026. Perilakunya berubah menjadi lebih agresif sejak 1 Mei 2026 yang ditandai dengan keluarnya cairan atau sperma pada alat kelamin. Pada 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah.

Baca juga: Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan

Memasuki awal Juni, di lokasi ikatan pengamanan, gajah berusia 45 tahun itu tidak dapat didekati, tidak merespons perintah dari mahout atau pawang, dan mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas.

"Untuk menjaga kondisi fisiknya, Tim Flying Squad menyuplai pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, dan rumput gajahan, serta memastikan ketersediaan air minum berkala setiap pagi dan sore dari jarak aman," tulis Balai TN Tesso Nilo.

Kemudian, petugas mulai memandikan Indro menggunakan mesin pompa air guna menjaga kebersihan dan stabilitas suhu tubuhnya. Pembiusan dilakukan terhadap Indro pada 24 Juni 2026 untuk memasang rantai tambahan sebagai upaya pengamanan.

Pasca-prosedur, tim medis memberikan penawar bius hingga Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri tegak yang stabil. Mulai siang hari pasca-pembiusan, Indro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis.

Mahout dan tim medis pun langsung memantau intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli.

"Pada 27 Juni 2026, tim medis menyuntikkan 100 ml Biodin (suplemen energi), melakukan evakuasi kotoran (feses) secara manual, memeriksa suhu tubuh, serta memberikan infus suportif sebanyak lima botol pada sore hari (15.30 WIB) dan lima botol lagi pada malam hari (23.00 WIB) karena belum ada perkembangan signifikan," jelas Balai TN Tesso Nilo.

Baca juga: Gajah Lahir di Taman Satwa Lampung, Dinamai Rut untuk Hormati Dubes Norwegia

Pada 28 Juni 2026, Indro sempat meminum air dan mencoba makan. Tim medis juga melakukan penginfusan masif sebanyak 60 botol dari pukul 10.30 WIB hingga 19.00 WIB.

Pada sore hari pukul 16.15 WIB, Indro dimandikan, mau minum, dan suhu tubuhnya terperiksa normal. Menjelang tengah malam pukul 00.16 WIB, Indro terpantau masih aktif bergerak dan menunjukkan ketertarikan pada makanan.

Namun, pada pukul 03.30 WIB, gajah tersebut ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan beserta seluruh tim mahout segera melakukan pemeriksaan darurat terhadap fungsi pernapasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru selama beberapa menit.

Sejauh ini, Balai Taman Nasional Tesso Nilo telah membedah bangkai lalu mengambil sampel dari organ-organ vital gajah Indro untuk diuji patologi.

"Hasil dari uji laboratorium tersebut akan menjadi dasar ilmiah utama untuk memastikan penyebab klinis pasti kematian gajah Indro. Setelah proses nekropsi selesai, bangkai Gajah Indro langsung dikuburkan di sekitar lokasi camp secara aman dan terkontrol," kata Balai TNTN.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau