Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Padi Lokal Terancam Hilang, Masyarakat Adat Kehilangan Pengetahuan hingga Ritual

Kompas.com, 30 Juni 2026, 14:39 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Hilangnya varietas padi lokal tidak hanya berarti berkurangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga mengancam keberlangsungan pengetahuan, ritual, dan cara hidup masyarakat adat yang telah diwariskan selama bergenerasi.

Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), Cindy Julianty, mengatakan padi memiliki makna yang jauh melampaui fungsi sebagai sumber pangan atau komoditas ekonomi. Di berbagai komunitas adat di Indonesia, setiap varietas padi memiliki nama, fungsi, serta nilai budaya yang berbeda.

"Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang untuk konsumsi sehari-hari, ada yang digunakan untuk kebutuhan ritual tertentu. Ada pula jenis padi lokal yang tidak bisa diganti, karena fungsinya bukan hanya ekonomi, tetapi juga spiritual dan ekologis," ujar Cindy dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).

Baca juga: Cek Teknologi Pertanian Modern, Prabowo: Kita Bisa Jadi Lumbung Padi Dunia

Menurut dia, hilangnya satu varietas padi lokal juga berarti hilangnya sistem pengetahuan yang selama ini menghubungkan manusia dengan alam, musim, tanah, hingga leluhur.

"Ketika padi lokal hilang, ritual yang terkait dengannya juga ikut hilang. Ketika ritual hilang, cara melihat sumber daya alam ikut berubah. Padi kemudian dipandang hanya sebagai komoditas untuk dijual. Pada titik itu, hubungan antara manusia dan alam juga ikut melemah," katanya.

Praktik menjaga padi lokal hingga kini masih dilakukan sejumlah masyarakat adat, seperti Komunitas Kasepuhan dan Baduy.

Di komunitas tersebut, lumbung padi tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga menjadi ruang pelestarian benih, pengetahuan, dan tradisi.

Masyarakat adat juga memiliki teknik penyimpanan benih secara tradisional, termasuk memanfaatkan tumbuhan tertentu sebagai pengawet alami agar benih tetap bertahan dalam waktu lama.

Cindy menjelaskan bahwa praktik-praktik tersebut merupakan bagian dari warisan biokultural, yakni hubungan yang tidak terpisahkan antara keanekaragaman hayati dengan budaya masyarakat.

"Ketika bicara soal biokultural, berarti kita berbicara tentang hubungan, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar," ujarnya.

Baca juga: Di Tengah Beton Jakarta, Padi Menghijau di Atap Kelurahan Jakbar

Ia mengingatkan bahwa ketika hubungan manusia dengan alam mulai memudar, alam akan semakin dipandang semata-mata sebagai objek pemenuhan kebutuhan ekonomi. Kondisi itu berpotensi mendorong eksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya.

Warisan yang rentan hilang

Karena itu, menurut Cindy, warisan biokultural justru lebih rentan hilang dibandingkan keanekaragaman hayati. Ancamannya bukan hanya pada hilangnya spesies atau kawasan hutan, melainkan juga hilangnya hubungan antara manusia, alam, bahasa, ritual, dan pengetahuan yang berkembang bersama.

"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada keanekaragaman hayati. Karena yang terancam bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh hubungan yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," katanya.

Menjelang Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (CBD COP17) yang akan digelar di Yerevan, Armenia, pada Oktober 2026, WGII mendorong agar perlindungan wilayah kelola masyarakat adat tidak hanya berfokus pada pelestarian kawasan dan spesies, tetapi juga menjaga sistem pengetahuan serta praktik budaya yang hidup bersama alam.

Baca juga: Benih Padi Hasil Mutasi Iradiasi Nuklir BRIN Siap Diproduksi Industri

Hingga kini, lebih dari satu juta hektare wilayah Indigenous Peoples' and Local Community Conserved Territories and Areas (ICCAs) di Indonesia telah didokumentasikan sebagai kawasan yang dikelola masyarakat adat.

"Tantangannya hari ini bukan hanya menyelamatkan hutan dan spesies. Tantangannya adalah menjaga pengetahuan yang hidup bersamanya. Karena ketika satu padi lokal hilang, yang hilang adalah tanaman, ritual, ingatan, dan cara memandang alam," ujar Cindy.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau