Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 30 Juni 2026, 15:11 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Tekanan terhadap layanan dasar

Migrasi besar-besaran dan akibat aktivitas industri di Morowali, termasuk Bahodopi, turut memberi tekanan pada layanan dasar. Salah satunya terkait jalan.

Kondisi jalan di Bahodopi nyaris memprihatinkan, seperti dipenuhi lubang di sana-sini, permukaan tidak rata, tergenang dan becek saat hujan, serta berdebu. Belum lagi tumpuk-tumpukan sampah turut menambah suram pemandangan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Morowali Hasyim mengakui hal tersebut. Ia pun mengatakan bahwa kerusakan jalan di Bahodopi tengah menjadi fokus utama pemerintah daerah saat ini.

Namun, ia menekankan bahwa sebagian besar ruas jalan yang dikeluhkan warga dan ramai diperbincangkan di media sosial itu sebenarnya bukan kewenangan pemerintah kabupaten, melainkan jalan nasional yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.

“Ini yang menjadi fokus dan perhatian kami," ucapnya saat ditemui Kompas.com, Kamis.

Selain jalan rusak, Hasyim menambahkan bahwa lonjakan penduduk membuat ruang kelas di sekolah tidak cukup untuk menampung siswa. Layanan kesehatan pun menghadapi tantangan serupa.

Di sisi lingkungan, persoalan sampah menjadi salah satu yang paling kasat mata saat Kompas.com berkunjung ke Bahodopi. Tumpukan sampah yang sudah berhari-hari ditemukan di sepanjang jalan, di pinggir aliran sungai, hingga di lahan sekitar pusat perbelanjaan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Morowali Nukrah menyebut, pertambahan penduduk yang masif menjadi akar masalahnya. Sebagian besar pekerja tinggal di kos-kosan tanpa membayar retribusi sampah sehingga pengelolaan limbah domestik menjadi tantangan tersendiri.

"Mereka itu 80 persen tinggal di kos-kosan dan juga tidak membayar retribusi sampah," ujar Nukrah kepada Kompas.com.

Di sektor kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Morowali Nirmawati menyebut, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu tantangan utama di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas industri, disusul tuberkulosis dan HIV.

"Kasus ISPA memang masih menjadi perhatian kami, terutama di wilayah yang dekat dengan aktivitas industri. Paparan debu menjadi salah satu faktor yang perlu dikendalikan," ujarnya kepada Kompas.com.

Biaya hidup yang tinggi juga menjadi beban tersendiri, khususnya bagi pekerja bergaji minimum. Adapun upah minimum sektoral kabupaten (UMSK) Morowali tercatat Rp 4,6 juta.

Seorang pekerja di kawasan IMIP menggambarkan, kamar kos bisa mencapai Rp 1,5 juta per bulan tanpa fasilitas lengkap, sedangkan biaya sekali makan bisa berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000. Ini artinya, kebutuhan dasar kos dan makan saja bisa menyedot lebih dari separuh gaji.

"Kalau dihitung-hitung, gaji cepat habis. Kos saja sudah Rp 1,5 juta, belum makan, belum kebutuhan lain," kata pekerja tersebut.

Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, nikel telah mengubah Morowali dari kabupaten yang relatif sepi menjadi salah satu pusat industri terbesar di Indonesia. Penduduk bertambah, ekonomi tumbuh berlipat ganda, dan pendapatan daerah melonjak tajam.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih tersisa berbagai tantangan mulai dari kemiskinan, rendahnya partisipasi perempuan dalam pasar kerja, tekanan terhadap lingkungan, hingga peningkatan beban layanan dasar.

Bagi Morowali, pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi apakah industri nikel mampu menghadirkan pertumbuhan. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pertumbuhan itu dapat dinikmati lebih luas tanpa mengorbankan ruang hidup masyarakat yang telah lebih dahulu tinggal dan menggantungkan hidup di daerah tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau