Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026

Kompas.com, 30 Juni 2026, 15:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Para analis memperkirakan pembangkit listrik tenaga batu bara di China akan kembali meningkat tahun ini, setelah sempat turun untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.

Kenaikan ini dipicu oleh dampak fenomena El Nino dan perang Iran, serta pasokan energi terbarukan yang belum mampu mengimbangi tingginya permintaan listrik.

Melansir Reuters, Rabu (24/6/2026) sebagai konsumen listrik terbesar di dunia, China mencatat kenaikan penggunaan pembangkit listrik termal yang mayoritas bersumber dari batu bara dan sebagian kecil dari gas sebesar 3,4 persen dari tahun lalu.

Berdasarkan data badan statistik setempat, konsumsinya mencapai 2,53 triliun kilowatt-jam (kWh) dalam lima bulan pertama tahun ini.

Kenaikan pembangkit listrik batu bara

Lembaga konsultan S&P Global Energy dan Wood Mackenzie memperkirakan pembangkit listrik batu bara akan naik sekitar 1,5 persen hingga 2 persen, menjadi 5,4 triliun kWh pada tahun 2026 dibanding tahun lalu.

Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia

Sementara itu, perusahaan analisis data Kpler memperkirakan konsumsi batu bara di sektor listrik akan melonjak sekitar 3 persen menjadi 2,7 miliar ton.

Di sisi lain, China mulai mengurangi impor gas alam cair (LNG) demi menekan biaya tinggi akibat blokade di Selat Hormuz. S&P memprediksi penggunaan listrik dari gas akan merosot 12 persen menjadi 300 miliar kWh. Akibatnya, batu bara kembali diandalkan untuk menutupi kekurangan pasokan tersebut.

Sharon Feng, penasihat khusus di firma konsultan Azure International yang berbasis di Beijing, menambahkan bahwa lonjakan harga juga membuat fungsi gas beralih. Gas kini hanya akan digunakan sebagai cadangan saat permintaan listrik sedang mencapai puncak tertingginya.

Kenaikan penggunaan batu bara ini menunjukkan betapa sulitnya tantangan China dalam mengurangi emisi karbon di sektor listriknya. Meskipun China berkomitmen untuk lepas dari ketergantungan batu bara, kebutuhan listrik mereka justru terus melonjak akibat peralihan ke kendaraan listrik dan menjamurnya pusat data.

Menurut Feng, penggunaan AC juga semakin meningkat karena fenomena El Nino diperkirakan akan memicu suhu udara yang lebih panas dari biasanya pada musim panas ini. Selain itu, pulihnya aktivitas ekspor ikut mendongkrak kebutuhan listrik di sektor manufaktur.

Analis dari Wood Mackenzie, Yuxi Wang, menambahkan bahwa El Nino berpotensi mengurangi curah hujan di wilayah barat daya yang menjadi pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Kondisi ini akan memaksa provinsi-provinsi industri dengan permintaan listrik tinggi seperti Guangdong, Jiangsu, dan Zhejiang untuk beralih menggunakan lebih banyak bahan bakar fosil demi menutupi kekurangan pasokan listrik.

Energi terbarukan belum mampu imbangi 

Ketergantungan China pada batu bara sebenarnya sempat menurun secara bertahap seiring pesatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan sejak tahun 2020. Saat itu, Presiden Xi Jinping menargetkan China bebas emisi karbon pada tahun 2060.

Di tahun yang sama, China juga menargetkan kapasitas listrik dari angin dan surya sebesar 1.200 gigawatt (GW) pada tahun 2030, sebuah target yang justru berhasil mereka capai enam tahun lebih cepat, yaitu pada 2024.

Bahkan pada pertengahan 2023, kapasitas total pembangkit energi terbarukan sudah melampaui batu bara, mencakup lebih dari separuh total pembangkit listrik yang ada di China.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau