Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanpa Kendali Regulasi, AI Bakal Gagal Wujudkan Target SDG

Kompas.com, 30 Juni 2026, 20:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Pemerintah dan berbagai organisasi semakin mengandalkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk mempercepat kemajuan Target Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang sisa waktunya kurang dari empat tahun.

AI sendiri telah membuktikan potensinya di berbagai sektor pembangunan. Mulai dari memprediksi banjir dan melacak wabah penyakit, hingga memperbaiki cara bertani dan memperluas akses ke layanan keuangan serta hukum.

Namun, melansir Know ESG, Senin (29/6/2026) para ahli mengingatkan bahwa teknologi saja tidak bisa menyelesaikan masalah terbesar dunia. Meski AI menawarkan alat yang canggih, keberhasilannya sangat bergantung pada kebijakan dan lembaga yang mengatur bagaimana teknologi tersebut dibuat dan digunakan.

Perlu kendali regulasi

Diskusi yang berkembang seputar AI sering kali hanya fokus pada apa saja yang bisa dilakukan oleh teknologi tersebut.

Baca juga: Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030

Padahal, para ahli menilai tantangan sebenarnya ada pada aturan mainnya, bukan pada inovasinya. AI bisa mengolah data, membuat prediksi, dan memberi saran tindakan, tetapi AI tidak bisa menentukan apa yang adil, siapa yang berhak mendapat manfaat, atau siapa yang harus bertanggung jawab saat terjadi kesalahan.

Keputusan-keputusan ini tetap menjadi tanggung jawab pemerintah dan pembuat kebijakan.

Misalnya saja dalam soal pengelolaan air. Sistem berbasis AI bisa memprediksi kebutuhan air dengan lebih akurat dibanding metode tradisional, sehingga membantu menghemat air dan meningkatkan efisiensi saat kemarau.

Namun, sistem berbasis AI tersebut juga bisa memengaruhi bagaimana pasokan air yang terbatas itu dibagi. Jika tidak ada aturan pelindung yang tepat, hal ini berisiko merugikan masyarakat yang lemah.

Para ahli mengingatkan bahwa efisiensi jangan disamakan dengan keadilan. Keputusan tentang pembagian air, pengawasan, serta hak warga untuk memprotes keputusan otomatis memerlukan aturan main AI yang dirancang dengan baik, bukan sekadar algoritma yang lebih canggih.

Kekhawatiran yang sama juga berlaku dalam sistem hukum. Di berbagai belahan dunia, alat berbasis AI sudah mulai digunakan dalam kepolisian, penentuan hukuman, keputusan pembebasan bersyarat, dan penilaian risiko.

Meskipun para pengembang berupaya membuat sistem ini lebih transparan dengan menjelaskan bagaimana suatu keputusan diambil, transparansi saja tidak menjamin adanya keadilan.

Sebuah sistem bisa saja menjelaskan cara kerjanya dengan sangat jelas, namun tetap menghasilkan keputusan yang memihak.

Hal ini terjadi karena sistem tersebut menggunakan data yang tidak lengkap atau data masa lalu yang diskriminatif. Untuk memastikan keadilan, diperlukan pengawasan independen, perlindungan hukum, dan kesempatan yang nyata bagi masyarakat untuk menyanggah keputusan otomatis tersebut.

Kekhawatiran besar lainnya adalah kesenjangan yang makin melebar antara kemajuan teknologi yang sangat cepat dan sistem hukum yang bergerak lambat.

Standar industri memang bisa meningkatkan keamanan dan keandalan penggunaan AI, tetapi standar tersebut tidak bisa menentukan siapa yang bertanggung jawab secara hukum ketika sistem AI memicu kerugian.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau