KOMPAS.com - Fenomena El Niño yang kuat sedang terbentuk di tengah situasi yang berbahaya bagi ketahanan pangan global.
El Nino terjadi saat dunia sudah menghadapi rekor suhu panas akibat perubahan iklim, ditambah gangguan pengiriman di Selat Hormuz yang mengacaukan pasar pupuk, tepat ketika para petani di banyak wilayah bersiap menanam.
Melansir Reuters, Senin (29/6/2026) berbagai prediksi menunjukkan bahwa El Niño kali ini bisa menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.
El Niño tahun ini yang sedang terbentuk dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan-bulan musim dingin, juga dimulai dari suhu dasar bumi yang sudah lebih panas akibat perubahan iklim.
Hal ini membuat cuaca ekstrem menjadi lebih parah dan makin sulit diprediksi. Pemanasan berkala di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ini dipastikan bakal mengubah pola cuaca di seluruh dunia.
Di masa lalu, El Niño selalu memicu gagal panen, kekurangan pangan, dan tekanan pada pasar global.
Baca juga: BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
Namun, kini kita bisa memperkirakan wilayah pertanian mana saja yang paling berisiko mengalami kekeringan parah. Hal ini memberikan waktu yang singkat bagi pemerintah hingga para petani untuk bersiap-siap.
Analisis terbaru dari FAO menunjukkan daerah mana saja yang lahan pertanian dan peternakannya akan dihantam kekeringan paling parah akibat El Niño, bahkan di beberapa tempat bisa dipetakan hingga hitungan kilometer persegi.
Dengan memanfaatkan data kerusakan tanaman selama lebih dari 40 tahun, catatan dampak El Niño di masa lalu, dan pemetaan satelit beresolusi tinggi, sistem ini mampu mendeteksi di mana kerugian kemungkinan besar akan mulai terjadi.
Bagi sistem pangan kita, teknologi ini memberikan kemampuan terbaik untuk melihat ancaman sebelum benar-benar terjadi.
Risiko kekeringan pertanian yaitu ketika kelembapan tanah turun di bawah level yang dibutuhkan untuk menghidupi tanaman, lahan gembala, atau hewan ternak paling besar terjadi di wilayah Sahel, Afrika bagian Selatan, Asia Selatan dan Tenggara, serta Koridor Kering Amerika Tengah (CADC) dan Karibia.
Beberapa daerah di wilayah tersebut bahkan menghadapi peluang kekeringan hingga lebih dari 50 persen dalam beberapa bulan ke depan.
Di banyak wilayah, kondisi para petani sudah sangat memprihatinkan akibat curah hujan yang rendah, suhu panas yang tinggi, tanah yang tidak subur, konflik, serta kelaparan kronis.
Kekeringan ringan sekalipun bisa berdampak fatal jika terjadi saat musim tanam atau masa berbunga, terutama di daerah yang pertaniannya bergantung pada air hujan dan hewan ternak menjadi harta utama keluarga.
Risiko ini makin diperparah oleh melonjaknya biaya energi dan pupuk, anggaran negara yang makin menipis, serta pemotongan bantuan luar negeri. Terlebih lagi, beberapa wilayah yang terancam ini merupakan pemasok utama pasar beras dan biji-bijian pokok lainnya. Artinya, kekeringan di tingkat lokal ini bisa memicu kenaikan harga pangan di seluruh dunia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya