Sejarah menunjukkan seberapa besar risiko yang kita hadapi. Di Filipina, El Niño tahun 1997–1998 memotong produksi beras hingga 27 persen dan jagung sebesar 44 persen.
Baca juga: Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Lalu pada kejadian tahun 2015–2016, kerugian panen di sana diperkirakan mencapai 1,48 juta ton, dengan nilai sekitar 327 juta dolar AS. Secara global, siklus yang sama menyebabkan lebih dari 60 million orang membutuhkan bantuan dan memicu permohonan bantuan kemanusiaan sebesar 5 miliar dolar AS di 23 negara.
Analisis dari FAO ini menggunakan pelajaran dari krisis masa lalu untuk merencanakan kesiapan menghadapi krisis berikutnya.
Bagi para petani dan peternak, adanya peringatan dini ini berarti mereka bisa menunda masa tanam, menyimpan benih yang langka untuk musim berikutnya, memilih jenis tanaman yang tahan kekeringan dan panas, menimbun pakan ternak, atau mengamankan sumber air di jalur perpindahan ternak sebelum kelangkaan dimulai.
Analisis ini juga mengubah cara penentuan wilayah mana yang harus dibantu terlebih dahulu. Alih-alih membagi bantuan secara merata tetapi sedikit-sedikit, pemerintah dan pembuat program pembangunan kini bisa memfokuskan bantuan ke wilayah dengan risiko tertinggi.
Bantuan tersebut bisa langsung disalurkan dalam bentuk uang tunai, fasilitas irigasi, pakan ternak, benih, serta kebutuhan bertani lainnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya