MOROWALI, KOMPAS.com – Sudah lebih dari satu dekade Maja (56) meninggalkan kampung halamannya di Pulau Menui, Sulawesi Tengah, demi mencari penghidupan sebagai nelayan di pesisir Desa Bahodopi, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Saat pertama datang pada 2013, laut di sekitar Bahodopi masih menjanjikan.
Hanya dengan memancing di sekitar bibir pantai, ia bisa membawa pulang lebih dari 10 kilogram ikan kakap dalam semalam. Hasil tangkapan itu cukup untuk menghidupi keluarganya.
"Dulu, ku bilang kalau satu malam itu masih bisalah, kami kasih depan istri hasil penjualan (ikan). Sekarang, ku bilang, jangankan satu kilo atau dua kilo. Itu dapat dua ekor saja sudah Alhamdulillah ya," ujar Maja kepada Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi
Kini, kondisi itu tinggal kenangan. Menurut Maja, hasil tangkapan ikan mulai menurun setelah limbah tailing atau lumpur sisa pengolahan bijih nikel mengalir ke sungai hingga bermuara ke laut.
Sedimentasi dan dugaan pencemaran tersebut merusak kawasan terumbu karang yang selama ini menjadi habitat berbagai jenis ikan di pesisir Bahodopi.
Akibatnya, nelayan harus melaut semakin jauh hanya untuk memperoleh hasil tangkapan yang jauh lebih sedikit.
"Boleh kata bisa punah nelayan, khususnya di Desa Bahodopi, dampak masuknya perusahaan ini (industri nikel)," kata Maja.
Sebelumnya, nelayan masih bisa mencari ikan di sekitar pesisir. Kini mereka harus berlayar hingga lebih dari 12 mil laut dari garis pantai.
Perjalanan yang semakin jauh membuat biaya bahan bakar melonjak, sementara hasil tangkapan justru terus menurun.
Bantuan berupa rumpon maupun kapal fiber dari Pemerintah Kabupaten Morowali, menurut Maja, belum mampu menjawab persoalan tersebut.
Rumpon yang dipasang tidak menghasilkan ikan dalam jumlah yang cukup untuk menutup biaya operasional melaut. Sementara kapal fiber dinilai kurang aman digunakan untuk berlayar jauh di laut lepas.
"(Kapal fiber sebenarnya) enggak bisa (untuk 12 mil ke atas), (tetapi) tergantung orang yang bawa (juga). (Saya pergi) bisa sampai di Pulau Menui (Kabupaten Morowali), tergantung cuaca. Mayoritas nelayan di kampung (halaman saya) di sana, sekarang tangkapannya Alhamdulillah, karena (terumbu) karangnya bagus dan belum tercemar, kami (bisa) suplai ikan orang di sini," tuturnya.
Ironisnya, ketika harga ikan di Morowali terus meningkat karena tingginya permintaan dari kawasan industri, nelayan justru semakin sulit memperoleh ikan.
"Ada harganya, tetapi ikannya enggak ada. Sekarang di pasar Rp 60.000-70.000 per kilogram. Dulu satu ember berisi ikan dijual sekitar Rp 5.000 lantaran pasokannya banyak," ujar Maja.
Menurunnya hasil tangkapan memaksa banyak nelayan meninggalkan profesi utama mereka. Sebagian menjadi tukang bangunan, perangkat desa, hingga bekerja di kawasan industri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya