Penulis
KOMPAS.com - Bagi anak tuli, pemenuhan hak atas pendidikan tidak bisa sekadar diselesaikan dengan menyediakan akses inklusi ke ruang kelas. Tantangan mendasar yang sering kali luput adalah krisis akses terhadap bahasa sejak usia dini.
Tanpa adanya penguasaan bahasa yang kuat, baik isyarat maupun tulisan, proses transfer ilmu pengetahuan akan terhambat, sehingga peserta didik tuli rentan terisolasi dari dinamika belajar.
Oleh karena itu, meruntuhkan sekat komunikasi di ruang kelas melalui penerapan model pendidikan bilingual bukan lagi sebatas opsi fasilitas tambahan, melainkan sebuah fondasi kemanusiaan mendesak guna mewujudkan kesetaraan nyata di dunia pendidikan.
Berdasarkan kajian Pijar Foundation, 91 persen orangtua menilai bahasa isyarat penting bagi masa depan anak tuli. Namun, paparan anak tuli terhadap bahasa isyarat sejak dini masih terbatas, termasuk di layanan pendidikan.
Padahal ada sekitar 381 ribu peserta didik berkebutuhan khusus, sekitar 217 ribu kini bersekolah di satuan pendidikan inklusif.
Menjawab tantangan tersebut, Pijar Foundation dengan dukungan strategis The Nippon Foundation bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan "Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli" di Jakarta (30/6/2026).
Peluncuran program dengan tajuk “Kolaborasi untuk Pendidikan Inklusif Indonesia: Dari Percontohan ke Dampak Berkelanjutan” ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pijar Foundation dengan Kemendikdasmen.
Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli ini menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi utama dalam proses belajar.
Selain mengembangkan model pembelajaran yang lebih inklusif, program ini juga memperkuat kapasitas guru melalui Akademi Guru Pendidikan Tuli, yang saat ini diikuti 20 guru dengar dan 21 guru Tuli.
Inisiatif ini dirancang untuk membekali para guru dengan pengetahuan, keterampilan, dan sensitivitas dalam menciptakan ruang belajar yang lebih aksesibel bagi peserta didik Tuli.
“Bahasa adalah pintu menuju pengetahuan, dan pengetahuan adalah cara kita tumbuh bersama," tegas Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil.
"Karena itu, membangun pendidikan inklusif berarti membangun jembatan agar anak tuli dapat memahami, dipahami, dan berpartisipasi secara utuh dalam proses belajar. Peran Guru disini adalah fondasi dalam sistem pembelajaran,” jelasnya.
Dia menambahkan, program "Pendidikan Bilingual untuk Tuli" akan dimulai dengan "Akademi Guru untuk Pendidikan Tuli" yang akan membekali guru dengan keterampilan menghadirkan pendidikan bilingual dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Hal senada juga disampaikan Adhi Kusumo Bharoto, pakar linguistik isyarat di Indonesia yang juga seorang tuli.
“Bahasa isyarat harus menjadi bahasa pertama bagi anak-anak tuli, sebagai identitas mereka. Nota kesepahaman ini adalah bentuk komitmen yang betul-betul ramah untuk anak tuli agar bisa mencapai masa depan mereka,” ungkapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya