Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan

Kompas.com, 1 Juli 2026, 19:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pusat data menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Hal tersebut disebabkan adanya lonjakan pembangunan pusat data yang didorong secara drastis oleh tren kecerdasan buatan (AI) yang sedang booming.

Pusat data adalah kompleks bangunan besar yang sangat boros listrik, yang digunakan untuk menyimpan infrastruktur IT penting seperti komputer server. Fasilitas ini dibangun di seluruh dunia karena aplikasi AI membutuhkan daya komputasi yang makin raksasa.

Melansir Techxplore, Selasa (30/6/2026) hal inilah yang memicu lonjakan emisi gas rumah kaca. Studi dari Allianz Trade memperkirakan bahwa pusat data di seluruh dunia telah menghasilkan 286 juta ton karbon dioksida (CO2) pada tahun 2025 lalu.

Baca juga: Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim

Menurut Allianz Trade, angka tersebut 57 persen lebih tinggi dibandingkan perkiraan Badan Energi Internasional (IEA).

Laporan itu juga menyebutkan bahwa saat ini teknologi AI sudah memakan sekitar 15 persen hingga 20 persen total penggunaan listrik di pusat data. Angka ini diperkirakan bisa melonjak hingga 40 persen pada tahun 2030 mendatang.

"Pusat data kini bukan lagi sekadar faktor kecil, melainkan pendorong utama yang mengubah struktur kebutuhan listrik di banyak wilayah," ujar Patrick Hoffmann, ekonom iklim senior di Allianz.

Laporan tersebut menyatakan bahwa tanpa adanya langkah nyata untuk membersihkan jaringan listrik dari karbon, emisi dari pusat data bakal melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030.

Hal ini bisa memicu kerugian iklim tahunan sebesar 154 miliar dolar AS , naik drastis dari angka saat ini yang sebesar 68 miliar dolar AS.

Kerugian iklim

Khusus untuk kerugian iklim yang disebabkan oleh penggunaan AI saja, nilainya diperkirakan bisa menembus 50 miliar dolar AS pada tahun 2030.

Selain masalah emisi, pusat data juga sangat membebani sumber daya alam. Laporan itu menyebutkan bahwa pada tahun 2030, fasilitas ini bisa menghabiskan 1,3 triliun hingga 1,8 triliun liter air per tahun. Jumlah yang sangat besar.

Baca juga: Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global

Selain itu dengan kapasitas komputer yang sama, jumlah emisi yang dihasilkan bisa sangat berbeda jauh, tergantung dari mana sumber listriknya berasal.

Sebagai contoh, di India emisi listriknya sangat tinggi, yaitu menembus 600 gram CO2 per kilowatt-jam (kWh).

Sementara di Norwegia atau Swedia, emisinya kurang dari 30 gram CO2 per kWh, karena pembangkit listrik di sana sebagian besar sudah menggunakan energi bersih yang bebas karbon.

Menurut Allianz Trade, hampir 70 persen emisi pusat data di seluruh dunia saat ini menumpuk di dua negara saja, yaitu Amerika Serikat dan China, yang merupakan pemimpin teknologi AI global saat ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau