MOROWALI, KOMPAS.com – Dua puluh tahun lalu, Andi Muhammad Arifin masih terbiasa melihat hamparan kebun kakao di sekitar rumahnya di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Suasana kampung yang tenang perlahan berubah setelah industri nikel mulai berkembang di wilayah tersebut.
Orang tua Arifin merantau dari Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, ke Bahodopi pada 1998 untuk berkebun kakao. Ketika perusahaan tambang mulai masuk pada 2007, lahan keluarga mereka akhirnya dibebaskan pada 2010.
Uang ganti rugi dari penjualan kebun kemudian digunakan untuk membangun rumah kos yang kini menjadi sumber penghasilan keluarga.
Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi
Saat ini, keluarga Arifin memiliki 12 kamar kos yang disewakan dengan tarif Rp 800.000 hingga Rp 1 juta per bulan. Sebagian besar penghuninya merupakan pekerja di kawasan industri nikel.
"Sekarang lima kamar untuk orang tua dan tujuh kamar untuk saya. Dulu, saat kami menjadi petani kakao, suasananya tenang. Bedanya, sekarang bising, apalagi perusahaan sudah dekat, alat berat keluar masuk tiap malam. Tapi, penghasilan, perputaran uang kan lebih cepat," ujar Arifin kepada Kompas.com, Jumat (19/6/2026).
Menurut Arifin, geliat industri memang membawa peluang ekonomi baru. Selain mengelola rumah kos, ia juga membuka toko kelontong yang melayani kebutuhan sehari-hari para pekerja.
Namun, pertumbuhan ekonomi itu datang bersama konsekuensi yang tidak kecil.
Aktivitas alat berat berlangsung hampir sepanjang hari. Debu beterbangan saat musim kemarau dan polusi udara mulai menjadi keluhan warga.
"Iya (banyak orang sakit karena debu), itu batuk-batuk. Cuma ini kebetulan sedang musim hujan, jadi belum terlalu parah," katanya.
Persoalan lain muncul saat hujan turun. Saluran drainase yang buruk membuat sejumlah titik di sekitar rumahnya tergenang. Di saat yang sama, sampah rumah tangga sering menumpuk karena tidak segera diangkut petugas kebersihan.
Arifin mengatakan sampah dari rumah kos maupun lingkungan sekitar bahkan pernah dibiarkan lebih dari satu bulan sehingga menimbulkan bau menyengat.
Di sisi lain, biaya hidup di Bahodopi juga terus meningkat. Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram membuat harganya melonjak hingga Rp 90.000 per tabung.
Baca juga: Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain
"Saya sempat membeli tiga tabung, harganya Rp 90.000 per tabung, itu untuk saya, mertua, dan orang tua saya. Saya enggak mau jualan dengan harga segitu, enggak enak juga. Kalau untuk pemakaian pribadi sih mau tidak mau kami harus beli," ujarnya.
Perubahan serupa juga dirasakan pemerintah desa.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya