MOROWALI, KOMPAS.com - Ekspansi industri pengolahan nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dinilai telah mengubah wajah wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai sentra pertanian dan perikanan.
Lahan sawah beralih fungsi menjadi kawasan industri, sementara sejumlah kampung nelayan kehilangan ruang tangkap akibat pencemaran pesisir dan pembangunan pelabuhan khusus.
Sekretaris Gerakan Petani Indonesia Menggugat (GAPIT), Muhammad Azmy, mengatakan enam dari sembilan kecamatan di Morowali pernah menjadi sentra pertanian pada dekade 1990-an.
Baca juga: Ketika Desa-Desa di Lingkar Industri Nikel Morowali Berubah jadi Sentra Kos
Keenam kecamatan itu meliputi Bahodopi, Bungku Timur, Bungku Tengah, Bungku Barat, Bumi Raya, dan Witaponda.
Kini, menurut dia, hanya Kecamatan Bumi Raya dan Witaponda yang masih bertahan sebagai sentra produksi pertanian. Bahkan, kedua wilayah tersebut mulai dikelilingi kawasan izin usaha pertambangan (IUP).
"Lahan persawahan di Bahodopi sudah habis menjadi kawasan industri. Sebagian sawah di Bungku Barat juga telah beralih fungsi menjadi kawasan industri IHIP," kata Azmy kepada Kompas.com, Selasa (16/6/2026).
Meski demikian, ia mengaku dapat memahami perubahan fungsi lahan di Bahodopi karena wilayah tersebut sebelumnya didominasi rawa dan lahan yang kurang produktif untuk pertanian.
"Sebagian Bungku Barat masih aktif sawahnya. Kalau Bahodopi betul-betul mati. Kami mewajarkan Bahodopi menjadi kawasan industri waktu itu karena memang lahannya tidak produktif, gersang, rawa-rawa, hutan rawa," ujarnya.
Azmy menuturkan, kawasan pertanian di Bungku Timur dahulu tersebar di Desa Ululere dan Bahomoahi, sedangkan di Bungku Tengah berada di Desa Bahomante dan Lanona yang merupakan kawasan transmigrasi.
Menurut dia, keberadaan sawah tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Morowali modern melalui program transmigrasi dari Jawa dan Bali.
Karena itu, ia menilai Bumi Raya dan Witaponda merupakan benteng terakhir identitas pertanian Morowali yang perlu dipertahankan di tengah pesatnya ekspansi industri nikel.
"Kami memang bukan lumbung pangan provinsi atau nasional, tetapi ada hal lain yang harus diperhatikan, identitas kemorowalian itu yang berkaitan dengan sejarah terbentuknya Morowali. Jika ini hilang, maka identitas kita juga ikut hilang," tutur Azmy.
Baca juga: Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain
Ia berharap kawasan pertanian yang masih tersisa tetap dipertahankan melalui peningkatan produktivitas lahan, bukan dengan membuka lahan baru.
Kekhawatiran petani kembali muncul ketika pada 2025 salah satu perusahaan di kawasan ini berencana membangun saluran penyadap air (intake) dari Sungai Karaopa.
Sungai tersebut menjadi sumber irigasi bagi sekitar 2.000 hektar sawah di Kecamatan Bumi Raya dan Witaponda.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya