Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Industri batik nasional sedang menghadapi tantangan besar akibat membanjirnya produk tiruan.
Mayoritas produk yang diklaim sebagai batik di pasaran saat ini merupakan hasil cetak pabrikan, bukan karya otentik hasil proses membatik tradisional.
Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Komarudin Kudiya, mengungkapkan kekeliruan persepsi yang terjadi di masyarakat luas.
"Selama ini masyarakat mengira semua kain bermotif batik adalah batik. Faktanya, sekitar 80 persen produk yang beredar di pasaran merupakan tekstil bermotif batik atau batik tiruan, bukan batik yang dibuat melalui proses membatik," ujar Komarudin, di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Baca juga: Misi Hijau Dama Kara, Membuat Batik Inklusif dan Ramah Lingkungan
Tiruan yang diproduksi secara massal menggunakan teknologi cetak modern tersebut jamak dipasarkan dengan harga murah tanpa edukasi produk yang benar.
Imbasnya, publik kesulitan membedakan produk tulis, cap, atau kombinasi dengan tekstil bermotif batik.
Kondisi ini menekan pendapatan para perajin lokal, menurunkan volume produksi, dan mengancam keberlangsungan basis pengetahuan tradisional perbatikan Nusantara.
Merespons tekanan pasar tersebut, APPBI menggelar Pergelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 pada 8–12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.
Mengusung tema "Rupa Makna Tambal Nusantara", agenda ini menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat posisi batik asli Indonesia.
"Rupa" merepresentasikan kekayaan visual lintas daerah, "makna" menegaskan filosofi motif, dan "tambal" menjadi metafora kebersamaan untuk merajut kembali kekuatan ekonomi perajin.
Baca juga: Batik: Menenun Kesadaran untuk Bumi
Direktur Satue Event, Bambang Setiawan, menyebut pagelaran ini dirancang lebih dari sekadar pameran.
Menurutnya, pengunjung akan diajak menikmati pengalaman yang memadukan edukasi, apresiasi budaya, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh pelaku dalam ekosistem batik Indonesia.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah wastra, pameran ini menampilkan koleksi batik klasik dari Pakualaman Yogyakarta yang sarat nilai simbolik.
Peristiwa budaya ini juga menandai peluncuran Batik Puspa, sebuah karya baru yang didesain oleh GKBRAA Paku Alam X sebagai jembatan antara tradisi dan keberlanjutan zaman.
Upaya penguatan literasi publik diperdalam melalui bedah buku *Batik Tiga Negeri* karya Komarudin Kudiya dan Afif Syakur.
Buku tersebut mengupas tuntas narasi lintas budaya, teknik pewarnaan, dan perjalanan historis salah satu motif paling ikonis dalam dunia perbatikan.
Baca juga: Ekspor Batik 17,5 Juta Dolar AS, UMKM Perlu Ekosistem Pasar Digital
Rangkaian acara pendukung juga disiapkan untuk memperluas pelibatan publik, meliputi lelang batik, fashion show, talk show bersama Komunitas Cinta Berkain Indonesia, pasar batik rakyat untuk memutus rantai distribusi antara perajin UMKM dan konsumen, serta presentasi karya busana mahasiswa perguruan tinggi swasta asal Jakarta dan Bandung.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya