Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan

Kompas.com, 3 Juli 2026, 08:26 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Peluang anak untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam proses pembangunan dinilai lebih besar di tingkat desa dibandingkan di wilayah perkotaan.

Skala pemerintahan yang lebih kecil serta kedekatan hubungan antara masyarakat dan pemerintah desa dinilai memudahkan suara anak ditindaklanjuti.

National Director Wahana Visi Indonesia (WVI) Angelina Theodora mengatakan, organisasi masyarakat sipil lebih mudah memfasilitasi keterlibatan anak dalam forum perencanaan pembangunan di desa, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Kami lebih mungkin untuk memfasilitasi bagaimana anak bisa terlibat di dalam Musrenbang di desa, karena kalau di kota kadang-kadang terlalu luas ya, populasinya terlalu besar dan sampai ke level wali kota atau gubernur, itu biasanya sudah sulit untuk mengatur pertemuan dan sebagainya," ujar Angelina usai Festival Kisah Inspiratif di Perpustakaan Nasional, Kamis (2/7/2026).

Baca juga: Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026

Menurut dia, keberadaan Forum Anak di tingkat desa menjadi salah satu sarana yang memungkinkan aspirasi anak disampaikan langsung kepada pemerintah desa. Kedekatan antara pemerintah desa dan masyarakat membuat usulan anak lebih mudah dibahas maupun ditindaklanjuti.

"Kalau di level desa bisa lebih mudah karena relasinya lebih dekat dan skala populasinya lebih bisa dikelola," katanya.

Angelina mencontohkan, usulan anak-anak di Halmahera untuk membangun lapangan sepak bola dapat direalisasikan melalui anggaran pemerintah desa. Menurutnya, aspirasi yang ruang lingkupnya berada dalam kewenangan pemerintah desa cenderung lebih cepat diwujudkan.

Sebaliknya, usulan yang memerlukan kebijakan di tingkat kabupaten, provinsi, atau nasional membutuhkan proses yang lebih panjang karena melibatkan lebih banyak pihak.

"Kalau saya boleh jujur, biasanya lebih menantang. Lebih lama karena pihak-pihak yang perlu terlibat untuk koordinasi, kolaborasi, dan diskusi juga lebih banyak. Apalagi kalau isunya perlu dibahas lintas kementerian," ujarnya.

Ia mencontohkan isu keamanan digital bagi anak. Menurut Angelina, menciptakan ruang digital yang aman tidak hanya menjadi tanggung jawab kementerian yang membidangi komunikasi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan sektor pendidikan, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Baca juga: Hari Keanekaragaman Hayati 2026: PBB Tekankan Peran Anak Muda hingga Masyarakat Adat

Karena melibatkan banyak kementerian dan lembaga, penyusunan hingga implementasi kebijakan di tingkat nasional membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks sehingga prosesnya relatif lebih lama.

Menghimpun aspirasi

Sementara itu, perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Wiyarso Sumarsono, mengatakan aspirasi anak yang dihimpun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) diproses secara berjenjang mulai dari tingkat desa hingga nasional.

Menurut dia, setiap aspirasi yang disampaikan anak akan dipetakan sesuai bidangnya dan diteruskan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Selanjutnya, usulan tersebut menjadi bagian dari dokumen perencanaan yang divalidasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

"Anak-anak menyusun Suara Anak Indonesia. Itu proses panjang, mulai dari tingkat desa, kemudian kecamatan, kabupaten, sampai provinsi," ujar Wiyarso.

Ia menambahkan, perkembangan tindak lanjut terhadap aspirasi anak dapat dipantau melalui laman Suara Makna yang dikelola Kementerian PPPA sebagai bagian dari upaya memastikan suara anak masuk dalam proses perencanaan pembangunan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau