Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dalam satu pekan terakhir, dunia pembangunan berkelanjutan mencatat dua momentum penting yang layak menjadi bahan refleksi bersama.
Pertama, peluncuran Sustainable Development Report (SDR) 2026 oleh Sustainable Development Solutions Network (SDSN) di Dublin yang memperlihatkan perkembangan terbaru pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di berbagai negara.
Kedua, penyelenggaraan Global Sustainable Development Congress oleh Times Higher Education (THE) di Jakarta, yang diikuti dengan pengumuman "THE Impact Rankings", yakni pemeringkatan perguruan tinggi berdasarkan kontribusinya terhadap pencapaian SDGs.
Bagi Indonesia, kedua momentum tersebut membawa kabar yang menggembirakan. Dalam SDR 2026, posisi Indonesia kembali menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, dalam "THE Impact Ratings", lima perguruan tinggi Indonesia berhasil menembus jajaran 100 besar dunia, yaitu Universitas Airlangga (peringkat 15), Universitas Indonesia (31), Universitas Gadjah Mada (51), IPB University (62), dan Universitas Padjadjaran (100).
Baca juga: Krisis Ekologi Sumatra: Sebuah Utopia Pembangunan Berkelanjutan
Capaian ini menunjukkan semakin besarnya peran Indonesia, khususnya perguruan tinggi, dalam agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Namun, di balik optimisme tersebut, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar kenaikan peringkat atau capaian indikator.
Menjelang berakhirnya Agenda 2030, apakah dunia hanya membutuhkan seperangkat tujuan pembangunan yang baru sebagai kelanjutan SDGs, atau justru memerlukan cara pandang yang sama sekali baru tentang pembangunan itu sendiri?
Pertanyaan ini menjadi relevan karena sepuluh tahun setelah SDGs diadopsi, capaian global menunjukkan paradoks yang mengkhawatirkan. Hanya sekitar 16 persen target yang berada pada jalur pencapaian, sedangkan dua pertiga target lainnya mengalami kemajuan yang terlalu lambat dan 16 persen bahkan bergerak mundur.
Fakta ini menunjukkan bahwa tantangan dunia saat ini bukan sekadar mempercepat implementasi SDGs, tetapi juga mengevaluasi kembali paradigma pembangunan yang mendasarinya.
Jika sebagian besar target tetap tertinggal meskipun komitmen global semakin kuat, maka persoalannya mungkin tidak hanya terletak pada pelaksanaan, melainkan juga pada cara dunia memahami hubungan antara pembangunan, manusia, dan alam.
Refleksi inilah yang perlu menjadi titik awal dalam merumuskan agenda pembangunan global pasca-2030.
Di balik beragam indikator, target, dan capaian, sesungguhnya dunia sedang menghadapi krisis yang jauh lebih mendasar. Krisis itu bukan hanya persoalan iklim, kemiskinan, atau konflik. Ketiganya hanyalah gejala.
Akar persoalannya adalah krisis relasi: relasi manusia dengan alam, relasi manusia dengan sesama, dan relasi manusia dengan masa depan.
Pertama, krisis hubungan manusia dengan alam. Selama beberapa abad terakhir, pembangunan bertumpu pada paradigma bahwa alam merupakan objek yang dapat dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya