Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim

Kompas.com, 3 Juli 2026, 17:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Nature, UNSW

KOMPAS.com - Teknologi pendinginan pasif dinilai perlu menjadi bagian utama strategi adaptasi perubahan iklim di tengah meningkatnya suhu global dan semakin seringnya gelombang panas ekstrem.

Ketergantungan yang terus meningkat terhadap pendingin ruangan (air conditioner/AC) memang mampu melindungi masyarakat dari cuaca panas, tetapi pada saat yang sama meningkatkan konsumsi listrik dan emisi gas rumah kaca yang justru memperparah pemanasan perkotaan.

Ahli teknologi dan strategi mitigasi panas perkotaan dari University of New South Wales (UNSW) Sydney, Mat Santamouris, mengatakan penggunaan AC tetap penting untuk menyelamatkan nyawa saat gelombang panas.

Baca juga: Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim

Namun, menurut dia, pendingin ruangan tidak bisa menjadi satu-satunya solusi menghadapi krisis iklim.

"Pendingin udara menyelamatkan nyawa dan akan tetap penting selama cuaca panas ekstrem. Tetapi kita tidak bisa mengatasi perubahan iklim hanya dengan pendingin udara. Jika setiap bangunan sepenuhnya bergantung pada pendinginan mekanis, kita akan menciptakan tekanan yang sangat besar pada sistem kelistrikan sekaligus menambah lebih banyak panas ke kota-kota kita," ujar Santamouris, dikutip dari laman resmi UNSW Sydney, Jumat (3/7/2026).

Menurut Santamouris, bangunan perlu dirancang agar mampu menjaga suhu tetap sejuk tanpa bergantung sepenuhnya pada pendingin mekanis. Karena itu, teknologi pendinginan pasif seharusnya tidak lagi dipandang sebagai fitur arsitektur tambahan, melainkan menjadi infrastruktur penting untuk menghadapi dunia yang semakin panas.

Inovasi sistem pendinginan

Dalam tinjauan ilmiah berjudul "Passive Cooling for the Built Environment" yang dipublikasikan di Nature Reviews Clean Technology, Santamouris menyoroti berbagai inovasi pendinginan pasif, mulai dari material pendingin radiatif, pendingin evaporatif, kombinasi keduanya, sistem pengendali radiasi matahari, hingga teknologi inframerah pintar yang membantu bangunan melepaskan panas tanpa membutuhkan konsumsi listrik.

Kajian tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi pendinginan pasif mampu menurunkan suhu puncak kawasan perkotaan hingga 4,5 derajat Celsius, sekaligus mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan dan meningkatkan kenyamanan termal masyarakat.

Menurut Santamouris, strategi paling efektif bukanlah meningkatkan kapasitas AC, melainkan mencegah panas masuk ke dalam bangunan sejak awal.

"Strategi pendinginan terbaik adalah mencegah panas yang tidak diinginkan masuk ke dalam bangunan sejak awal. Peneduh, material reflektif, ventilasi yang lebih cerdas, dan material pendingin baru dapat secara dramatis mengurangi suhu dalam ruangan bahkan sebelum AC perlu dinyalakan," katanya.

Ia menilai pendinginan pasif sebaiknya menjadi lapisan perlindungan pertama, sementara pendingin mekanis hanya digunakan ketika benar-benar diperlukan.

Dengan menggabungkan desain bangunan yang responsif terhadap iklim dan teknologi pendinginan pasif, kebutuhan energi untuk pendinginan di wilayah beriklim panas diperkirakan dapat ditekan hingga 80 persen.

Baca juga: Gelombang Panas Datang Lagi, Warga Perancis Berkelahi Rebutan AC Murah

Pendekatan ini juga membantu mengurangi beban puncak jaringan listrik sekaligus meningkatkan ketahanan bangunan saat terjadi pemadaman listrik.

Selain menghemat energi, teknologi pendinginan pasif dinilai mampu meningkatkan kesehatan masyarakat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau