KOMPAS.com - Teknologi pendinginan pasif dinilai perlu menjadi bagian utama strategi adaptasi perubahan iklim di tengah meningkatnya suhu global dan semakin seringnya gelombang panas ekstrem.
Ketergantungan yang terus meningkat terhadap pendingin ruangan (air conditioner/AC) memang mampu melindungi masyarakat dari cuaca panas, tetapi pada saat yang sama meningkatkan konsumsi listrik dan emisi gas rumah kaca yang justru memperparah pemanasan perkotaan.
Ahli teknologi dan strategi mitigasi panas perkotaan dari University of New South Wales (UNSW) Sydney, Mat Santamouris, mengatakan penggunaan AC tetap penting untuk menyelamatkan nyawa saat gelombang panas.
Baca juga: Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Namun, menurut dia, pendingin ruangan tidak bisa menjadi satu-satunya solusi menghadapi krisis iklim.
"Pendingin udara menyelamatkan nyawa dan akan tetap penting selama cuaca panas ekstrem. Tetapi kita tidak bisa mengatasi perubahan iklim hanya dengan pendingin udara. Jika setiap bangunan sepenuhnya bergantung pada pendinginan mekanis, kita akan menciptakan tekanan yang sangat besar pada sistem kelistrikan sekaligus menambah lebih banyak panas ke kota-kota kita," ujar Santamouris, dikutip dari laman resmi UNSW Sydney, Jumat (3/7/2026).
Menurut Santamouris, bangunan perlu dirancang agar mampu menjaga suhu tetap sejuk tanpa bergantung sepenuhnya pada pendingin mekanis. Karena itu, teknologi pendinginan pasif seharusnya tidak lagi dipandang sebagai fitur arsitektur tambahan, melainkan menjadi infrastruktur penting untuk menghadapi dunia yang semakin panas.
Dalam tinjauan ilmiah berjudul "Passive Cooling for the Built Environment" yang dipublikasikan di Nature Reviews Clean Technology, Santamouris menyoroti berbagai inovasi pendinginan pasif, mulai dari material pendingin radiatif, pendingin evaporatif, kombinasi keduanya, sistem pengendali radiasi matahari, hingga teknologi inframerah pintar yang membantu bangunan melepaskan panas tanpa membutuhkan konsumsi listrik.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi pendinginan pasif mampu menurunkan suhu puncak kawasan perkotaan hingga 4,5 derajat Celsius, sekaligus mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan dan meningkatkan kenyamanan termal masyarakat.
Menurut Santamouris, strategi paling efektif bukanlah meningkatkan kapasitas AC, melainkan mencegah panas masuk ke dalam bangunan sejak awal.
"Strategi pendinginan terbaik adalah mencegah panas yang tidak diinginkan masuk ke dalam bangunan sejak awal. Peneduh, material reflektif, ventilasi yang lebih cerdas, dan material pendingin baru dapat secara dramatis mengurangi suhu dalam ruangan bahkan sebelum AC perlu dinyalakan," katanya.
Ia menilai pendinginan pasif sebaiknya menjadi lapisan perlindungan pertama, sementara pendingin mekanis hanya digunakan ketika benar-benar diperlukan.
Dengan menggabungkan desain bangunan yang responsif terhadap iklim dan teknologi pendinginan pasif, kebutuhan energi untuk pendinginan di wilayah beriklim panas diperkirakan dapat ditekan hingga 80 persen.
Baca juga: Gelombang Panas Datang Lagi, Warga Perancis Berkelahi Rebutan AC Murah
Pendekatan ini juga membantu mengurangi beban puncak jaringan listrik sekaligus meningkatkan ketahanan bangunan saat terjadi pemadaman listrik.
Selain menghemat energi, teknologi pendinginan pasif dinilai mampu meningkatkan kesehatan masyarakat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya