Namun, ia mengakui perubahan pola pikir masyarakat tetap menjadi pekerjaan rumah terbesar. Menurutnya, membangun kebiasaan memilah dan mengembalikan sampah tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Triyono berkaca pada program pengumpulan botol plastik PET bekas pakai Recycle Me yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun partisipasi masyarakat.
"Dulu orang terbiasa membungkus makanan dengan daun, selesai dipakai langsung terurai. Sekarang sudah berubah menjadi plastik, tetapi kebiasaannya masih sama, dibuang begitu saja. Nah, mengubah perilaku ini yang paling sulit," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperbanyak titik pengumpulan sampah kemasan di pusat-pusat aktivitas masyarakat. Menurutnya, kemudahan akses menjadi faktor penting agar warga Jakarta yang memiliki mobilitas tinggi lebih terdorong mengembalikan sampah kemasan ke sistem daur ulang.
Dengan dukungan infrastruktur yang memadai serta perubahan perilaku masyarakat, penerapan EPR di Jakarta diharapkan mampu meningkatkan tingkat pengumpulan dan daur ulang sampah kemasan sekaligus menjadi model pengelolaan sampah bagi kota-kota lain di Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya