Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jakarta Jadi Barometer Keberhasilan Kebijakan Tanggung Jawab Produsen Atasi Sampah

Kompas.com, 4 Juli 2026, 18:38 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai Jakarta menjadi barometer keberhasilan penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab produsen yang diperluas di Indonesia.

Kompleksitas persoalan sampah di ibu kota membuat keberhasilan penerapan EPR di Jakarta dinilai dapat menjadi acuan bagi daerah lain.

Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah KLH Agus Rusly mengatakan, Jakarta menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang paling rumit dibandingkan daerah lain. Karena itu, jika EPR berhasil diterapkan di Jakarta, implementasinya di wilayah lain diyakini akan lebih mudah.

Baca juga: World Refill Day, Mengenal Refill Station yang Bantu Kurangi Sampah Plastik

"Saat kita sukses menyelesaikan sampah Jakarta, sebenarnya daerah lain relatif lebih mudah. Bukan berarti kami menggampang-gampangkan, tetapi melihat kompleksitas Jakarta yang sangat tinggi sehingga daerah lain relatif lebih sederhana," ujar Agus dalam diskusi kebijakan kota Membedah Peta Jalan EPR Jakarta pada Jakarta Eco Future Fest 2026 di Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Menurut Agus, tantangan terbesar bukan terletak pada infrastruktur, melainkan perubahan perilaku masyarakat. Keberhasilan EPR bergantung pada partisipasi konsumen untuk memilah dan mengembalikan sampah kemasan setelah digunakan.

Ia mencontohkan masih banyak warga yang membuang kemasan minuman plastik sembarangan di ruang publik.

"Saya tadi pagi lari melewati kawasan ini. Di berbagai titik masih banyak orang membeli kopi, setelah minum gelas plastiknya dibuang begitu saja di taman," katanya.

Meski demikian, Agus menilai Jakarta memiliki modal yang lebih baik dibandingkan daerah lain untuk menjalankan EPR. Selain didukung anggaran daerah yang besar, ibu kota juga telah memiliki berbagai infrastruktur pengelolaan sampah yang tinggal diintegrasikan.

Program wajib perusahaan

KLH saat ini terus mendorong semakin banyak perusahaan menyusun peta jalan pengurangan sampah sebagai bagian dari implementasi EPR.

Setelah menyusun target dan rencana pengurangan sampah, perusahaan diwajibkan menjalankan program tersebut sekaligus melaporkan hasilnya kepada pemerintah.

Melalui mekanisme tersebut, pemerintah dapat memastikan bahwa kemasan pascakonsumsi yang diproduksi perusahaan benar-benar dikumpulkan kembali dan didaur ulang.

"Itu yang kami harapkan, sehingga plastik tidak lagi menjadi persoalan besar karena bisa diselesaikan melalui proses daur ulang dan penggunaan kembali," ujar Agus.

Sementara itu, Senior Director Public Affairs, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo menilai Jakarta memiliki ekosistem yang relatif lengkap untuk mendukung penerapan EPR.

Menurut dia, berbagai elemen yang dibutuhkan sudah tersedia, mulai dari produsen, bank sampah, pengepul hingga industri daur ulang.

Baca juga: Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik

"Semua sudah komplet. Tinggal bagaimana semuanya bisa bersinergi sehingga ekosistem pengelolaan sampah itu benar-benar berjalan," kata Triyono.

Namun, ia mengakui perubahan pola pikir masyarakat tetap menjadi pekerjaan rumah terbesar. Menurutnya, membangun kebiasaan memilah dan mengembalikan sampah tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Triyono berkaca pada program pengumpulan botol plastik PET bekas pakai Recycle Me yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun partisipasi masyarakat.

"Dulu orang terbiasa membungkus makanan dengan daun, selesai dipakai langsung terurai. Sekarang sudah berubah menjadi plastik, tetapi kebiasaannya masih sama, dibuang begitu saja. Nah, mengubah perilaku ini yang paling sulit," ujarnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah memperbanyak titik pengumpulan sampah kemasan di pusat-pusat aktivitas masyarakat. Menurutnya, kemudahan akses menjadi faktor penting agar warga Jakarta yang memiliki mobilitas tinggi lebih terdorong mengembalikan sampah kemasan ke sistem daur ulang.

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai serta perubahan perilaku masyarakat, penerapan EPR di Jakarta diharapkan mampu meningkatkan tingkat pengumpulan dan daur ulang sampah kemasan sekaligus menjadi model pengelolaan sampah bagi kota-kota lain di Indonesia.

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau