Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terinspirasi Kearifan Betawi, Warga Setu Kelola Sampah Organik dengan "Biopori Gede"

Kompas.com, 6 Juli 2026, 07:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kearifan lokal masyarakat Betawi dalam mengelola limbah rumah tangga menginspirasi warga RW 03 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis komunitas.

Alih-alih menggunakan lubang biopori berukuran kecil, warga memanfaatkan drum bekas yang ditanam di dalam tanah untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Ketua RW 03 Kelurahan Setu, Maah, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari kebiasaan masyarakat Betawi pada masa lalu yang mengelola limbah organik dengan menggali lubang berukuran sekitar 2 x 2 meter di pekarangan rumah.

Saat itu, sebagian besar limbah rumah tangga berasal dari sisa makanan, rumput, maupun kotoran ternak yang kemudian dikubur dan dibiarkan terurai hingga menyuburkan tanah.

Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme

"Babe saya dulu memelihara lima ekor kerbau. Di samping kandangnya digali lubang ukuran 2x2 meter untuk menampung kotoran ternak, sisa makanan, dan rumput. Setelah kering diangkat jadi pupuk atau dibiarkan tertimbun, makanya kebun orang Betawi dulu subur-subur," ujar Maah kepada Kompas.com saat ditemui di Jakarta Eco Future Fest 2026, Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Menurut Maah, cara tersebut tidak lagi dapat diterapkan karena lahan pekarangan kini semakin sempit akibat pertambahan penduduk dan pembagian warisan.

Di sisi lain, jenis sampah rumah tangga juga berubah drastis dengan meningkatnya penggunaan kemasan plastik sekali pakai.

Berangkat dari kondisi itu, ia menggagas modifikasi konsep lama tersebut melalui lubang biopori berkapasitas besar yang memanfaatkan drum bekas berukuran 200 liter.

"Kalau dulu lubangnya 2x2 meter, sekarang kami perkecil. Diameternya sekitar setengah meter dengan kedalaman sekitar dua meter. Supaya tanah tidak tertimbun sampah, kami menggunakan drum bekas yang ditanam di dalam tanah," katanya.

Warga kemudian menyebut inovasi tersebut sebagai "biopori gede".

Baca juga: Bantargebang Batasi Pembuangan Sampah pada 1 Agustus, Komisi D DPRD DKI Kejar Penanganan Sampah Organik

Berbeda dengan lubang biopori konvensional yang hanya berdiameter sekitar 10 hingga 15 sentimeter, drum bekas tersebut mampu menampung limbah organik rumah tangga dalam jumlah lebih besar.

"Biar gampang, kami sebut saja biopori gede. Bahannya pakai drum bekas supaya lebih murah," ujar Maah.

Manfaatkan sisa proyek

Selain memanfaatkan drum bekas, pengurus RW juga mengubah lahan sisa proyek pembangunan jalan menjadi kawasan pengolahan sampah organik yang diberi nama Kampung Biopori setelah berkoordinasi dengan pemerintah setempat.

Saat ini telah tersedia 10 drum biopori yang digunakan untuk mengolah sisa makanan, kulit buah, sayuran, tulang, hingga kepala ikan dari rumah tangga warga.

Pengelolaannya dilakukan secara kolektif. Setiap dua drum digunakan oleh sekitar 30 kepala keluarga sehingga tanggung jawab pengelolaan berada di tingkat kelompok warga.

"Misalnya satu jalan ada 30 kepala keluarga, kami siapkan dua drum. Warga di kelompok itu membuang sampah organiknya ke sana," kata Maah.

Menurut dia, sistem tersebut membantu mengurangi bau, mencegah pencemaran lingkungan, sekaligus menekan volume sampah organik yang harus diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Sebelum program berjalan, Maah mengajak seluruh ketua RT di wilayahnya mengunjungi TPST Bantargebang untuk melihat langsung besarnya persoalan sampah di Jakarta.

"Saya ajak para RT melihat sendiri. Saya bilang, kalau terus seperti ini, ke depan kita pasti kesulitan," ujarnya.

Baca juga: Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit

Program tersebut kemudian semakin relevan setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan pemilahan sampah dari sumber.

Di tingkat RW, kebijakan itu diterapkan dengan membagi sampah ke dalam tiga kategori, yakni sampah organik, sampah anorganik, dan sampah residu.

Menurut Maah, sampah organik justru menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah rumah tangga karena volumenya sangat besar.

Ia memperkirakan satu keluarga dapat menghasilkan sekitar 1,5 kilogram sampah organik setiap hari. Dengan jumlah sekitar 1.300 kepala keluarga di RW 03, timbulan sampah organik yang dihasilkan setiap hari mencapai jumlah yang sangat besar.

"Kalau dibuang begitu saja pasti bau dan mencemari lingkungan. Pertanyaannya, mau dibawa ke mana sampah sebanyak itu?" ujarnya.

Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kaleng masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual ke bank sampah. Adapun sampah residu, seperti popok sekali pakai dan pembalut, tetap diangkut oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena memerlukan penanganan khusus.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau