Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jutaan Spesies Serangga Belum Ditemukan di Tengah Ancaman Kepunahan Global

Kompas.com, 6 Juli 2026, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa Bumi kemungkinan memiliki sekitar 14,2 juta hingga 20,3 juta jenis spesies serangga. Angka ini jauh lebih tinggi daripada perkiraan lama yang selama ini diyakini, yaitu sekitar 6 juta jenis.

Namun, melansir Down to Earth, Senin (6/7/2026) hingga saat ini para ilmuwan baru berhasil mencatat dan menjelaskan sekitar 1,2 juta jenis serangga secara resmi.

Artinya, sebagian besar serangga di Bumi masih menjadi misteri. Studi baru ini menegaskan betapa banyaknya hal yang belum kita ketahui dan menunjukkan betapa pentingnya mendata keanekaragaman serangga sebelum mereka telanjur punah.

Pendataan serangga besar-besaran

Dalam studi ini peneliti melakukan pendataan serangga secara besar-besaran di Area de Conservacion Guanacaste (ACG), sebuah kawasan cagar alam seluas 169.000 hektare di bagian barat laut Kosta Rika, Amerika Tengah.

Kawasan ini memiliki hutan kering, hutan kabut, dan hutan hujan, menjadikannya salah satu laboratorium alam terbaik di dunia untuk mempelajari serangga.

Baca juga: Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?

Peneliti memfokuskan pencarian mereka pada Microgastrinae, sekelompok tawon parasit yang sangat beragam jenisnya. Tawon ini berkembang biak dengan cara menaruh telur-telur mereka di dalam tubuh ulat.

Ketika larva tawon menetas, mereka akan memakan ulat tersebut dari dalam sebelum akhirnya keluar. Karena jenis tawon ini sangat banyak dan hidupnya sangat bergantung pada ulat yang ditumpanginya, mereka menjadi cara yang sangat ampuh bagi peneliti untuk memperkirakan jumlah total seluruh serangga di kawasan tersebut.

Untuk menangkap tawon Microgastrinae, tim peneliti memasang 15 buah perangkap Malaise. Itu merupakan alat penangkap serangga yang bentuknya mirip seperti tenda yang ditempatkan baik di bagian tengah maupun di pinggiran kawasan cagar alam Guanacaste.

Secara keseluruhan, para peneliti berhasil menangkap 1,63 juta serangga tropis.

Dengan menggunakan metode bernama DNA barcoding, para peneliti berhasil menemukan 53.945 jenis serangga baru, hanya dari perangkap yang dipasang di bagian tengah kawasan saja.

Ketika menggabungkan semua serangga yang didapat dari seluruh perangkap baik di bagian tengah maupun pinggiran, dengan tawon yang diambil langsung dari dalam tubuh ulat, tim peneliti berhasil menemukan total 1.414 jenis tawon Microgastrinae.

Dengan menggunakan perhitungan matematika pada jenis serangga yang berhasil ditangkap, para peneliti memperkirakan bahwa jumlah asli seluruh jenis serangga yang ada di kawasan cagar alam Guanacaste sebenarnya adalah sekitar 332.846 jenis.

Baca juga: Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan

Jumlah total serangga di dunia

Untuk memperkirakan jumlah total serangga di seluruh dunia, para peneliti kemudian membandingkan jumlah jenis pohon yang ada di cagar alam yang berjumlah sekitar 1.200 hingga 1.500 jenis pohon dengan total sekitar 73.000 jenis pohon yang ada di seluruh dunia.

Dengan menjadikan jumlah pohon tersebut sebagai patokan untuk menghitung skala perbandingan serangga, mereka akhirnya mendapatkan perkiraan terbaik bahwa ada sekitar 20,3 juta jenis serangga di seluruh dunia.

Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga di Bumi ternyata jauh lebih kaya dan banyak daripada yang kita ketahui selama ini.

Di saat aktivitas manusia menyebabkan penurunan jumlah serangga yang sangat parah di seluruh dunia, para peneliti percaya bahwa hasil kerja mereka ini memberikan petunjuk penting untuk menyelamatkan sisa-sisa keanekaragaman serangga yang masih ada.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau