KOMPAS.com - Jutaan warga Eropa menghadapi gelombang panas yang semakin ekstrem. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko kesehatan, tetapi juga memicu perdebatan mengenai akses terhadap pendingin ruangan (air conditioner/AC).
Pendingin ruangan kini dipandang sebagai kebutuhan untuk bertahan hidup sekaligus berpotensi memperburuk krisis iklim.
Rumah tangga dengan pendapatan tinggi umumnya lebih mudah beradaptasi dengan suhu yang terus meningkat.
Mereka dapat meningkatkan kualitas isolasi bangunan, memasang pompa panas yang efisien untuk pemanasan dan pendinginan, atau bahkan meninggalkan kota menuju rumah kedua selama musim panas.
Baca juga: Kota-kota di Eropa Kekurangan Tempat Berteduh Saat Gelombang Panas Ekstrem Melanda
Sebaliknya, banyak warga berpenghasilan rendah harus bertahan di apartemen dengan insulasi yang buruk, lantai paling atas yang menyerap panas, atau lingkungan padat yang minim ruang hijau.
Kondisi tersebut diperparah dengan status mereka sebagai penyewa yang umumnya tidak dapat memasang sistem pendingin permanen tanpa persetujuan pemilik bangunan. Di sisi lain, kenaikan tarif listrik membuat penggunaan pendingin portabel menjadi semakin mahal.
Aliansi politik sayap kiri Eropa, DIEM25, menilai dampak gelombang panas memperlihatkan ketimpangan kemampuan masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.
"Panas ini bukan hanya keadaan darurat iklim, tetapi juga perang kelas. Orang kaya membakar planet ini, lalu membeli pendingin ruangan, kolam renang pribadi, dan rumah kedua sementara para pekerja dibiarkan tinggal di apartemen yang terlalu panas, pekerjaan yang tidak aman, layanan publik yang gagal, dan kota-kota yang terbakar," demikian pernyataan DIEM25 yang dipimpin mantan Menteri Keuangan Yunani, Yannis Varoufakis, dikutip dari Euronews, Senin (6/7/2026).
Para ahli kesehatan masyarakat mengingatkan bahwa gelombang panas kini telah menjadi ancaman kesehatan yang serius.
Prancis, misalnya, mengalami salah satu gelombang panas terburuk pada Juni 2026, ketika suhu melampaui 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut dilaporkan menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan, terutama di kalangan lanjut usia.
Profesor fisiologi dari University of Thessaly, Yunani, Andreas Flouris, mengatakan dampak gelombang panas kini tidak lagi hanya dirasakan negara-negara Eropa Selatan.
"Masalahnya paling parah di selatan, tentu saja, di sanalah kita melihat beberapa kecelakaan besar. Namun, pada saat yang sama, kami juga mencatat peningkatan kecelakaan tertinggi di Eropa tengah dan utara," ujarnya.
Baca juga: Gelombang Panas di Perancis Tewaskan 2.025 Orang dalam Sepekan
Laporan terbaru European Trade Union Institute juga menunjukkan sekitar 130 juta pekerja di Eropa terpapar stres panas saat bekerja. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 277.000 kecelakaan kerja dan 230 kematian setiap tahun.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya