KOMPAS.com - Suhu udara yang sangat tinggi dapat membawa dampak yang berbahaya bagi kesehatan jantung.
Melansir Independent, Kamis (2/7/2026) cuaca yang panas dan lembap membuat organ penting tersebut harus bekerja jauh lebih keras dari biasanya, hanya untuk mengatur suhu tubuh dan menjaga agar tubuh kita tetap berfungsi dengan normal, Asosiasi Jantung Amerika memperingatkan.
"Ketika tubuh mencoba untuk mendinginkan diri, detak jantung akan meningkat cepat dan pembuluh darah akan melebar. Bagi orang yang memiliki penyakit jantung, bahkan bagi mereka yang sehat sekalipun, beban kerja tambahan itu bisa berubah menjadi bahaya dengan sangat cepat," jelas Dr. Manesh Patel, seorang dokter dari Duke Health.
Baca juga: Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global
Hal itulah yang menjadi alasan mengapa cuaca panas menjadi pembunuh nomor satu di antara semua bencana cuaca lainnya, yang menurut para ahli kini menyebabkan ribuan kematian setiap tahunnya.
Sebuah studi dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Yale bahkan mengungkapkan kematian akibat cuaca panas melonjak lebih dari 50 persen selama 20 tahun terakhir.
Risiko ini terus meningkat akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia. Perubahan iklim ini membawa rekor suhu panas baru dan gelombang panas yang berlangsung lebih lama, sehingga risikonya makin besar dari tahun ke tahun.
Cuaca panas bisa mengganggu kinerja tubuh orang yang memiliki penyakit jantung karena pembuluh darah mereka sudah tersumbat.
Saat cuaca panas, tubuh akan mengirimkan darah ekstra ke pembuluh darah, yang kemudian melebar agar hawa panas bisa keluar dari tubuh. Namun, pembuluh darah yang tersumbat membuat tubuh kehilangan kemampuan tersebut.
"Bisa terjadi ketidakseimbangan antara apa yang dibutuhkan oleh jantung saat ia bekerja lebih keras menghadapi panas, dengan apa yang mampu diberikan oleh tubuh," kata Lauren Siewny, direktur medis dari IGD Rumah Sakit Universitas Duke.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), untuk menghindari dampak panas ekstrem, orang yang memiliki penyakit jantung maupun yang sehat harus melakukan langkah pencegahan yang sama.
Pertama, pastikan untuk tetap berada di tempat yang sejuk dan batasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, yaitu saat suhu udara sedang mencapai puncaknya. Jika terpaksa harus berada di luar rumah, usahakan untuk selalu berteduh di bawah bayangan dan beristirahatlah sesering mungkin.
Baca juga: Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Selain itu juga usahakan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi juga sangat penting, baik sebelum maupun sesudah pergi ke luar ruangan, karena kita kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Artinya juga, hindari alkohol dan minuman berkafein karena bisa membuat tubuh makin kekurangan cairan, catat asosiasi tersebut.
Gunakan pakaian yang cocok dengan cuaca panas. Pakailah tabir surya, kacamata hitam pelindung matahari, topi lebar, serta pakaian berwarna terang.
Terakhir, waspadai gejala-gejala yang mengkhawatirkan, seperti sakit kepala, kulit terasa dingin dan basah karena keringat atau terlihat pucat, detak nadi cepat tetapi lemah, pusing, otot lemas atau kram, serta mual atau muntah.
"Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, segera hentikan atau perlambat aktivitas fisik Anda dan pindahlah ke tempat yang lebih sejuk. Segera dinginkan tubuh dengan cara menyiramkan air dingin ke badan dan minumlah air untuk mengembalikan cairan tubuh. Anda mungkin perlu segera mencari bantuan medis," kata CDC.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya