Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Jantung, Bagaimana Cara Lindungi Diri?

Kompas.com, 6 Juli 2026, 18:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Suhu udara yang sangat tinggi dapat membawa dampak yang berbahaya bagi kesehatan jantung.

Melansir Independent, Kamis (2/7/2026) cuaca yang panas dan lembap membuat organ penting tersebut harus bekerja jauh lebih keras dari biasanya, hanya untuk mengatur suhu tubuh dan menjaga agar tubuh kita tetap berfungsi dengan normal, Asosiasi Jantung Amerika memperingatkan.

"Ketika tubuh mencoba untuk mendinginkan diri, detak jantung akan meningkat cepat dan pembuluh darah akan melebar. Bagi orang yang memiliki penyakit jantung, bahkan bagi mereka yang sehat sekalipun, beban kerja tambahan itu bisa berubah menjadi bahaya dengan sangat cepat," jelas Dr. Manesh Patel, seorang dokter dari Duke Health.

Baca juga: Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global

Kematian akibat cuaca panas

Hal itulah yang menjadi alasan mengapa cuaca panas menjadi pembunuh nomor satu di antara semua bencana cuaca lainnya, yang menurut para ahli kini menyebabkan ribuan kematian setiap tahunnya.

Sebuah studi dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Yale bahkan mengungkapkan kematian akibat cuaca panas melonjak lebih dari 50 persen selama 20 tahun terakhir.

Risiko ini terus meningkat akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia. Perubahan iklim ini membawa rekor suhu panas baru dan gelombang panas yang berlangsung lebih lama, sehingga risikonya makin besar dari tahun ke tahun.

Cuaca panas bisa mengganggu kinerja tubuh orang yang memiliki penyakit jantung karena pembuluh darah mereka sudah tersumbat.

Saat cuaca panas, tubuh akan mengirimkan darah ekstra ke pembuluh darah, yang kemudian melebar agar hawa panas bisa keluar dari tubuh. Namun, pembuluh darah yang tersumbat membuat tubuh kehilangan kemampuan tersebut.

"Bisa terjadi ketidakseimbangan antara apa yang dibutuhkan oleh jantung saat ia bekerja lebih keras menghadapi panas, dengan apa yang mampu diberikan oleh tubuh," kata Lauren Siewny, direktur medis dari IGD Rumah Sakit Universitas Duke.

Menghindari risiko

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), untuk menghindari dampak panas ekstrem, orang yang memiliki penyakit jantung maupun yang sehat harus melakukan langkah pencegahan yang sama.

Pertama, pastikan untuk tetap berada di tempat yang sejuk dan batasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, yaitu saat suhu udara sedang mencapai puncaknya. Jika terpaksa harus berada di luar rumah, usahakan untuk selalu berteduh di bawah bayangan dan beristirahatlah sesering mungkin.

Baca juga: Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua

Selain itu juga usahakan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi juga sangat penting, baik sebelum maupun sesudah pergi ke luar ruangan, karena kita kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Artinya juga, hindari alkohol dan minuman berkafein karena bisa membuat tubuh makin kekurangan cairan, catat asosiasi tersebut.

Gunakan pakaian yang cocok dengan cuaca panas. Pakailah tabir surya, kacamata hitam pelindung matahari, topi lebar, serta pakaian berwarna terang.

Terakhir, waspadai gejala-gejala yang mengkhawatirkan, seperti sakit kepala, kulit terasa dingin dan basah karena keringat atau terlihat pucat, detak nadi cepat tetapi lemah, pusing, otot lemas atau kram, serta mual atau muntah.

"Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, segera hentikan atau perlambat aktivitas fisik Anda dan pindahlah ke tempat yang lebih sejuk. Segera dinginkan tubuh dengan cara menyiramkan air dingin ke badan dan minumlah air untuk mengembalikan cairan tubuh. Anda mungkin perlu segera mencari bantuan medis," kata CDC.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau