KOMPAS.com - Emisi metana dari sapi yang diberi pakan biji-bijian di Australia diperkirakan jauh lebih rendah dibandingkan angka yang selama ini digunakan dalam inventaris gas rumah kaca (GRK) nasional. Temuan ini berpotensi mengubah cara emisi sektor peternakan dihitung sekaligus meningkatkan akurasi pelaporan perubahan iklim.
Studi terbaru yang dilakukan peneliti Universitas Massey, Amelia Almeida, menunjukkan sapi yang diberi pakan biji-bijian menghasilkan emisi metana sekitar 56 persen lebih rendah dibandingkan perkiraan model lama yang digunakan Australia.
Selama ini, perhitungan emisi metana di Australia mengacu pada model yang dikembangkan berdasarkan data sapi perah di Amerika Serikat pada 1970-an. Model tersebut dinilai tidak lagi mencerminkan kondisi peternakan modern di Australia yang telah mengalami perubahan pada jenis pakan, genetika ternak, maupun praktik pengelolaan.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh
Melalui analisis terhadap kumpulan data terbaru yang merepresentasikan sistem pemberian pakan biji-bijian saat ini, Almeida menyusun persamaan baru yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi peternakan Australia.
"Metode yang lebih akurat memperkuat kepercayaan petani terhadap sistem pelaporan, memastikan pelaporan internasional yang lebih kredibel di bawah Perjanjian Paris, dan menghindari pernyataan yang berlebihan mengenai kontribusi industri peternakan terhadap perubahan iklim," ujar Almeida, dikutip dari laman resmi Universitas Massey, Selasa (7/7/2026).
Menurut Almeida, temuan tersebut menunjukkan bahwa model perhitungan emisi sebaiknya dibangun berdasarkan data lokal, bukan mengandalkan model dari negara lain yang memiliki sistem produksi berbeda.
Pelajaran ini, kata dia, juga relevan bagi Selandia Baru yang sebagian besar ternaknya dipelihara dengan sistem penggembalaan di padang rumput.
Ia menilai inventaris nasional harus mempertimbangkan karakteristik masing-masing negara, mulai dari jenis pakan, genetika ternak, hingga praktik manajemen peternakan agar estimasi emisi lebih akurat.
"Jika petani melihat angka-angka yang digunakan dalam kebijakan benar-benar didasarkan pada ilmu pengetahuan lokal yang akurat, mereka akan lebih percaya terhadap sistem tersebut dan lebih terdorong untuk terlibat dalam upaya pengurangan emisi," kata Almeida.
Meski Selandia Baru selama ini dikenal memiliki salah satu sistem perhitungan emisi metana paling maju di dunia melalui pengukuran langsung terhadap ternak, Almeida menilai model tersebut tetap perlu diperbarui secara berkala.
Baca juga: Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
Menurut dia, perubahan pada genetika ternak, kualitas padang rumput, maupun sistem budidaya membuat persamaan yang digunakan dalam inventaris emisi tidak bisa bersifat permanen.
Selain memperbaiki metode penghitungan emisi, Almeida juga menyoroti potensi praktik pertanian regeneratif dalam menekan emisi gas rumah kaca.
Ia terlibat dalam Program Whenua Haumanu di Selandia Baru, sebuah inisiatif yang mengkaji efektivitas praktik pertanian regeneratif berbasis bukti ilmiah.
Menurut Almeida, hasil awal program tersebut menunjukkan penerapan praktik pengelolaan lahan tertentu mampu menurunkan emisi metana maupun dinitrogen oksida, dua gas rumah kaca utama dari sektor pertanian.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya