KOMPAS.com - Bank Dunia Juni lalu merilis laporan yang mengungkapkan bahwa ada sembilan negara yang menyumbang 83 persen dari total pembakaran gas (gas flaring) dunia pada 2025. Padahal negara tersebut hanya memproduksi 46 persen minyak dunia.
Sebagai informasi gas flaring merupakan gas alam sisa yang ikut keluar ke permukaan. Karena dianggap tidak ekonomis untuk ditampung atau dialirkan lewat pipa, perusahaan minyak biasanya langsung membakar gas tersebut di udara terbuka menggunakan pipa cerobong raksasa yang mengeluarkan api.
Hal itu membuat praktik gas flaring menjadi pemborosan energi yang luar biasa sekaligus menjadi salah satu penyumbang polusi gas rumah kaca terbesar yang mempercepat pemanasan global.
Melansir Down to Earth, Jumat (3/7/2026) laporan yang diterbitkan oleh Kemitraan Pengurangan Metana dan Pembakaran Global Bank Dunia bersama Payne Institute di Colorado School of Mines ini menunjukkan bahwa pembakaran gas dunia meningkat selama tiga tahun berturut-turut.
Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia
Jumlahnya mencapai 167 miliar meter kubik pada tahun 2025, naik dari 157 miliar meter kubik pada tahun 2024.
Laporan pemantauan pembakaran gas dunia tahun 2026 memperkirakan bahwa aktivitas pembakaran gas menghasilkan emisi polusi yang setara dengan 429 juta ton karbon dioksida pada tahun 2025, termasuk sekitar 50 juta ton dari gas metana yang tidak terbakar.
Sembilan negara pembakar gas terbesar yakni Rusia, Iran, Irak, Venezuela, Meksiko, Libya, Aljazair, Nigeria, dan Amerika Serikat menjadi penyebab dari sebagian besar volume pembakaran gas di dunia.
Lebih dari 60 persen peningkatan pembakaran gas di dunia selama tahun 2025 hanya berasal dari tiga negara saja, yaitu Rusia, Meksiko, dan Iran.
Jika digabungkan, ketiga negara tersebut meningkatkan pembakaran gas sebanyak sekitar 6 miliar meter kubik. Angka peningkatan ini hampir tiga kali lipat lebih besar daripada total pengurangan yang berhasil dilakukan oleh negara-negara lain yang sudah berusaha menurunkan pembakaran gas mereka di tahun itu. Rusia tetap menjadi negara pembakar gas terbesar di dunia, dengan jumlah pembakaran yang naik sebesar 9 persen.
Selain itu jumlah gas yang dibakar sia-sia pada tahun 2025 ternyata lebih besar daripada jumlah gas alam cair (LNG) yang diangkut melewati Teluk Persia pada tahun itu, dan kurang lebih setara dengan total kebutuhan gas seluruh benua Afrika dalam setahun.
Gas yang hilang terbakar tersebut diperkirakan bernilai sekitar 54 miliar dolar AS, yang menunjukkan betapa besarnya kerugian uang sekaligus kerusakan lingkungan akibat praktik pembakaran gas ini.
Menurut laporan Bank Dunia, untuk menghentikan kebiasaan membakar gas di seluruh dunia diperlukan modal awal sekitar 70 hingga 100 miliar dolar AS.
Bank Dunia mencatat bahwa teknologi yang dibutuhkan untuk menangkap dan memanfaatkan gas sisa tersebut sebenarnya sudah ada dan siap dijual. Hambatan utamanya bukanlah masalah teknologi, melainkan kurangnya jaringan pipa, pasar gas yang terbatas, susahnya modal finansial, serta lemahnya ketegasan hukum dari pemerintah.
Menurut Bank Dunia, jika kebiasaan membakar gas sisa ini dikurangi, negara-negara seperti Mesir, India, dan Irak bisa menghemat uang karena tidak perlu lagi membeli gas yang mahal dari luar negeri. Gas yang diselamatkan itu bisa dipakai untuk meningkatkan produksi listrik dan memperbanyak pasokan bahan bakar memasak yang bersih bagi warga.
Setiap 1 miliar meter kubik gas alam yang diselamatkan bisa menghasilkan sekitar 4 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik. Jumlah ini sangat besar dan bisa membantu wilayah-wilayah yang selama ini kekurangan listrik.
Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya