Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bank Dunia: Sembilan Negara Dominasi 83 Persen Total Gas Flaring Dunia

Kompas.com, 7 Juli 2026, 14:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bank Dunia Juni lalu merilis laporan yang mengungkapkan bahwa ada sembilan negara yang menyumbang 83 persen dari total pembakaran gas (gas flaring) dunia pada 2025. Padahal negara tersebut hanya memproduksi 46 persen minyak dunia.

Sebagai informasi gas flaring merupakan gas alam sisa yang ikut keluar ke permukaan. Karena dianggap tidak ekonomis untuk ditampung atau dialirkan lewat pipa, perusahaan minyak biasanya langsung membakar gas tersebut di udara terbuka menggunakan pipa cerobong raksasa yang mengeluarkan api.

Hal itu membuat praktik gas flaring menjadi pemborosan energi yang luar biasa sekaligus menjadi salah satu penyumbang polusi gas rumah kaca terbesar yang mempercepat pemanasan global.

Negara penghasil gas flaring

Melansir Down to Earth, Jumat (3/7/2026) laporan yang diterbitkan oleh Kemitraan Pengurangan Metana dan Pembakaran Global Bank Dunia bersama Payne Institute di Colorado School of Mines ini menunjukkan bahwa pembakaran gas dunia meningkat selama tiga tahun berturut-turut.

Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia

Jumlahnya mencapai 167 miliar meter kubik pada tahun 2025, naik dari 157 miliar meter kubik pada tahun 2024.

Laporan pemantauan pembakaran gas dunia tahun 2026 memperkirakan bahwa aktivitas pembakaran gas menghasilkan emisi polusi yang setara dengan 429 juta ton karbon dioksida pada tahun 2025, termasuk sekitar 50 juta ton dari gas metana yang tidak terbakar.

Sembilan negara pembakar gas terbesar yakni Rusia, Iran, Irak, Venezuela, Meksiko, Libya, Aljazair, Nigeria, dan Amerika Serikat menjadi penyebab dari sebagian besar volume pembakaran gas di dunia.

Lebih dari 60 persen peningkatan pembakaran gas di dunia selama tahun 2025 hanya berasal dari tiga negara saja, yaitu Rusia, Meksiko, dan Iran.

Jika digabungkan, ketiga negara tersebut meningkatkan pembakaran gas sebanyak sekitar 6 miliar meter kubik. Angka peningkatan ini hampir tiga kali lipat lebih besar daripada total pengurangan yang berhasil dilakukan oleh negara-negara lain yang sudah berusaha menurunkan pembakaran gas mereka di tahun itu. Rusia tetap menjadi negara pembakar gas terbesar di dunia, dengan jumlah pembakaran yang naik sebesar 9 persen.

Selain itu jumlah gas yang dibakar sia-sia pada tahun 2025 ternyata lebih besar daripada jumlah gas alam cair (LNG) yang diangkut melewati Teluk Persia pada tahun itu, dan kurang lebih setara dengan total kebutuhan gas seluruh benua Afrika dalam setahun.

Gas yang hilang terbakar tersebut diperkirakan bernilai sekitar 54 miliar dolar AS, yang menunjukkan betapa besarnya kerugian uang sekaligus kerusakan lingkungan akibat praktik pembakaran gas ini.

Manfaat membakar lebih sedikit gas

Menurut laporan Bank Dunia, untuk menghentikan kebiasaan membakar gas di seluruh dunia diperlukan modal awal sekitar 70 hingga 100 miliar dolar AS.

Bank Dunia mencatat bahwa teknologi yang dibutuhkan untuk menangkap dan memanfaatkan gas sisa tersebut sebenarnya sudah ada dan siap dijual. Hambatan utamanya bukanlah masalah teknologi, melainkan kurangnya jaringan pipa, pasar gas yang terbatas, susahnya modal finansial, serta lemahnya ketegasan hukum dari pemerintah.

Menurut Bank Dunia, jika kebiasaan membakar gas sisa ini dikurangi, negara-negara seperti Mesir, India, dan Irak bisa menghemat uang karena tidak perlu lagi membeli gas yang mahal dari luar negeri. Gas yang diselamatkan itu bisa dipakai untuk meningkatkan produksi listrik dan memperbanyak pasokan bahan bakar memasak yang bersih bagi warga.

Setiap 1 miliar meter kubik gas alam yang diselamatkan bisa menghasilkan sekitar 4 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik. Jumlah ini sangat besar dan bisa membantu wilayah-wilayah yang selama ini kekurangan listrik.

Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Desa Sejahtera Astra
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Pemerintah
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Pemerintah
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
LSM/Figur
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
LSM/Figur
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Pemerintah
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Pemerintah
Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global
Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global
Pemerintah
Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen
Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen
Pemerintah
Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Pemerintah
Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH
Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH
Pemerintah
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau