Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PLN: Cuaca Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab Pemadaman Listrik

Kompas.com, 7 Juli 2026, 20:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – PT PLN (Persero) menyatakan cuaca ekstrem akibat krisis iklim bukan satu-satunya penyebab terjadinya pemadaman listrik.

Luasnya gangguan kelistrikan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi jaringan, sistem proteksi, karakteristik pembangkit, hingga respons operasional saat gangguan terjadi.

Manajer Pengelolaan Perubahan Iklim PT PLN (Persero), Annisa Urfa, mengatakan setiap kejadian pemadaman harus dievaluasi secara menyeluruh agar langkah mitigasi yang diambil mampu menyasar akar persoalan.

Baca juga: Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik

"Setiap kejadian pemadaman listrik perlu dievaluasi secara menyeluruh agar langkah mitigasi menyasar akar masalahnya," ujar Annisa dalam webinar "Reformasi Jaringan Listrik Indonesia", Selasa (7/7/2026).

Meski demikian, ia mengakui perubahan iklim telah menjadi salah satu risiko terbesar bagi sektor ketenagalistrikan. Mengacu pada Global Risk Report 2025, cuaca ekstrem menempati posisi kedua sebagai risiko global jangka pendek dan menjadi risiko terbesar dalam jangka panjang.

"Bagaimana kami memastikan ketahanan ketenagalistrikan ini untuk tetap andal di tengah meningkatnya frekuensi maupun intensitas kejadian cuaca ekstrem," kata Annisa.

Menurut dia, PLN telah memasukkan perubahan iklim sebagai salah satu risiko strategis yang dapat memengaruhi keandalan sistem kelistrikan dan keberlanjutan bisnis perusahaan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada jaringan distribusi dan transmisi, tetapi juga pembangkit serta pasokan energi primer.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kejadian cuaca ekstrem telah mengganggu operasional kelistrikan.

Di Jawa Barat, misalnya, cuaca ekstrem sempat menyebabkan sekitar 1.100 gardu distribusi terdampak sehingga mengakibatkan pemadaman listrik bagi puluhan ribu pelanggan. Sementara itu, banjir dan longsor di Sulawesi Selatan pada 2024 juga memengaruhi keandalan jaringan listrik.

El Nino dan La Nina tingkatkan risiko

Annisa menjelaskan, fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina turut meningkatkan risiko terhadap infrastruktur ketenagalistrikan.

Saat El Nino 2023, kekeringan berkepanjangan menyebabkan debit air di sejumlah waduk menurun sehingga mengganggu operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sebaliknya, La Nina pada 2024 meningkatkan curah hujan yang memicu banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang berdampak pada jaringan listrik.

"Nah, ini yang mengganggu keandalan," ujarnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, PLN menempatkan risiko cuaca ekstrem sebagai bagian dari risk appetite perusahaan. Strategi yang ditempuh antara lain memperkuat infrastruktur kelistrikan, meningkatkan aspek keselamatan, serta mengurangi potensi dampak operasional maupun finansial akibat bencana.

Sebelumnya, Direktur Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, menilai ketahanan sistem kelistrikan ke depan tidak cukup diukur dari aspek keandalan pasokan dan biaya listrik saja.

Menurut dia, kemampuan infrastruktur menghadapi cuaca ekstrem (*grid resilience*) perlu menjadi indikator penting mengingat dampak perubahan iklim diperkirakan semakin besar.

Baca juga: IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau