Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Semakin Banyak Kelas Menengah Bangun Bisnis Sendiri?

Kompas.com, 8 Juli 2026, 19:13 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com - Semakin banyak pekerja kelas menengah memilih membangun usaha sampingan untuk menambah penghasilan di tengah meningkatnya biaya hidup dan terbatasnya kenaikan pendapatan dari pekerjaan utama.

Fenomena itu terlihat dalam bazar UMKM yang digelar warga di Boulevard Asana Residence Cibubur, Sabtu (4/7/2026). Salah satu peserta, Iman Ratra (34), memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memasarkan merek parfum yang ia bangun bersama istrinya sejak 2023.

Dengan membuka stan di bazar lingkungan, Iman berharap memperoleh tambahan penghasilan di luar pekerjaannya sebagai karyawan di industri media.

Baca juga: Mendongkrak Daya Beli Kelas Menengah dengan Kebijakan Pajak

"Dalam kondisi ekonomi sekarang, bertahan saja sudah bersyukur. Saya melihat teman-teman enggak lagi mengejar gaji atau jabatan tinggi, tetapi bagaimana tetap punya penghasilan dengan membangun brand sendiri," ujar Iman.

Menurut dia, usaha sampingan bukan hanya menjadi sumber pendapatan tambahan, tetapi juga ruang untuk menyalurkan kreativitas yang sulit diwujudkan dalam lingkungan kerja yang penuh birokrasi dan jenjang organisasi.

"Kalau di korporasi banyak birokrasi dan hierarki. Bangun brand sendiri membuat saya tetap bekerja, tetapi juga punya ruang untuk menjadi diri sendiri," katanya.

Bisnis parfum yang dijalankan bersama istrinya sejak 2023 itu tidak mengganggu pekerjaan utamanya dan justru menunjang penampilannya sebagai garda depan perusahaan (frontliner). Bisnis parfumnya hanya bermain pada segmen premium tanpa perlu euforia di sosial media.

Botol-botol kosong yang dikembalikan para pelanggan di sekitar rumahnya untuk ditukar dengan potongan harga pengisian ulang parfum sebesar Rp 20.000 mencerminkan bagian dari upaya keberlanjutan bisnis dan lingkungan.

"Kami jualan di situ dari komplek-komplek, dari rumah ke rumah, dari tetangga ke tetangga. Jadi, ini bisa dibilang menyelamatkan keuangan untuk harian lah," ucapnya.

Iman mengatakan, bisnis parfum yang dijalankan secara sederhana dari lingkungan tempat tinggal hingga jaringan pertemanan kini membantu menopang kebutuhan sehari-hari.

Ia juga menerapkan sistem isi ulang (refill) dengan memberikan potongan harga bagi pelanggan yang mengembalikan botol parfum bekas sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah kemasan.

Pengalaman serupa dirasakan Delly Ferdian (33). Peneliti di sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang transisi energi itu memulai usaha pempek beku (frozen) dengan modal sekitar Rp 800.000.

Ide bisnis tersebut muncul setelah keluarga besarnya di Palembang rutin mengirim pempek ke Jakarta. Respons positif dari rekan kerja istrinya membuat Delly melihat peluang usaha.

Baca juga: Konsumsi Naik Tak Selalu Tanda Optimistis, Kelas Menengah Justru Cemas Masa Depan

"Saat teman-teman istri minta dibawakan terus karena katanya enak, kami melihat pasarnya cukup menjanjikan. Dalam dua bulan sudah bisa membantu menambah penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Delly, pekerjaan utamanya tetap menjadi prioritas. Namun, fleksibilitas jam kerja membuatnya dapat mengembangkan usaha sampingan tanpa mengganggu tanggung jawab di kantor.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau