KOMPAS.com-Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) memastikan bahwa beralih ke sumber energi yang lebih murah dan bersih telah membantu mengurangi ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.
Peralihan ini, melansir Edie, Jumat (3/7/2026) berhasil menghemat biaya hingga 480 Miliar Dolar AS (sekitar Rp 8.632 triliun) pada tahun 2025.
IRENA menekankan bahwa energi terbarukan tetap menjadi sumber listrik baru yang paling murah di sebagian besar pasar dunia. Bahkan, lebih dari 90 persen pembangkit listrik ramah lingkungan skala besar yang dibangun pada tahun 2025 terbukti jauh lebih murah daripada pilihan bahan bakar fosil termurah sekalipun.
Selain itu, jarak harga antara energi terbarukan dan bahan bakar fosil juga terus melebar, membuat energi bersih makin ekonomis.
Baca juga: Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Meskipun harga listrik dari panel surya (PLTS) tetap sama dengan tahun 2024, yaitu 44 dolar AS (sekitar Rp791 ribu) per megawatt-jam (MWh), harga listrik dari kincir angin terus turun tahun lalu.
Harga kincir angin di darat turun menjadi 33 dolar AS (sekitar Rp593 ribu) per MWh, dan kincir angin di laut turun menjadi 78 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per MWh.
Secara keseluruhan, sejak tahun 2010, harga listrik panel surya telah anjlok sebesar 89 persen, kincir angin darat turun 71 persen, dan kincir angin laut turun 63 persen.
Sebaliknya, antara tahun 2024 dan 2025, biaya untuk membangun pembangkit listrik tenaga gas alam baru justru makin mahal. Karena adanya kelangkaan mesin turbin, modal yang dibutuhkan untuk membangun pabrik gas baru melonjak dua kali lipat dalam setahun menjadi sekitar 2.400 dolar AS (sekitar Rp43,1 juta) per kilowatt (KW) di Amerika Serikat.
Meskipun harga listrik di negara-negara yang gasnya murah tetap stabil di angka 50 dolar AS hingga 60 dolar AS (sekitar Rp899 ribu hingga Rp1,07 juta) per MWh, di negara lain seperti Italia, Jerman, dan Jepang, biaya total produksi listrik dari gas melonjak hingga 100 dolar AS (sekitar Rp1,79 juta) per MWh.
"Penurunan biaya energi terbarukan memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar. Bagi negara-negara yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, setiap penambahan pembangkit listrik ramah lingkungan akan memperkuat benteng ekonomi mereka dari ketidakpastian harga bahan bakar. Langkah ini melindungi konsumen, pelaku usaha, dan keuangan negara dari beban biaya yang membengkak," kata Francesco La Camera, Direktur Jenderal IRENA.
“Penghematan yang dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan yang sudah ada terus bertambah, memberikan perlindungan otomatis dari guncangan ekonomi di masa depan. Krisis energi ini kembali membuktikan: memperbanyak pembangkit ramah lingkungan adalah investasi strategis untuk membangun ketahanan dan daya saing,” katanya lagi.
Menurut laporan IRENA juga, pembangkit energi terbarukan yang sudah beroperasi di Indonesia, Thailand, dan Filipina berhasil membantu ketiga negara tersebut menghemat pengeluaran kolektif sebesar 5,7 miliar dolar AS (sekitar Rp102,5 triliun) untuk membeli batu bara dan gas pada tahun 2025.
Jika harga bahan bakar saat itu setinggi lonjakan harga yang terjadi pada bulan Maret hingga Mei tahun ini, uang yang dihemat bisa mencapai 6,5 miliar dolar AS (sekitar Rp116,8 triliun).
Baca juga: Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional
Bahkan, jika ketiga negara tersebut sudah melipatgandakan jumlah pembangkit energi bersih mereka, uang yang bisa dihemat akan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 12,9 miliar dolar AS (sekitar Rp231,9 triliun).
Pada tahun 2025, sebanyak 692 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan baru ditambahkan ke jaringan listrik dunia. Angka ini naik 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya, sekaligus menjadi rekor perluasan tahunan terbesar dalam sejarah industri ini.
Penambahan ini membuat total kapasitas pembangkit listrik ramah lingkungan di dunia mencapai rekor tertinggi, yaitu 5.149 GW. Berkat kemajuan pembangunan energi hijau yang luar biasa dan terus-menerus ini, energi terbarukan mengambil porsi yang makin besar dalam pertumbuhan kapasitas energi dunia.
Energi bersih menyumbang 85,6 persen dari seluruh pembangunan pembangkit listrik baru tahun lalu, sementara pangsa pasar bahan bakar fosil terus menyusut.
Menurut data terbaru dari IRENA, keberhasilan menggantikan bahan bakar fosil senilai 480 miliar dolar AS (sekitar Rp8.632 triliun) pada tahun 2025 juga membantu dunia mencegah terlepasnya 8,4 gigaton gas karbon dioksida ke udara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya