JAKARTA, KOMPAS.com – Spesifikasi material aspal jalan, baik yang menggunakan bahan baru maupun hasil daur ulang, dinilai perlu mulai disesuaikan dengan tantangan krisis iklim.
Di tengah suhu bumi yang terus meningkat dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, material perkerasan jalan dituntut tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga tetap memiliki daya tahan tinggi.
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Taqia Rahman mengatakan, pendekatan pembangunan jalan ke depan harus mengarah pada climate resilient pavement atau perkerasan jalan yang mampu bertahan terhadap dampak perubahan iklim.
Baca juga: Uni Eropa Adopsi Aturan Daur Ulang untuk Kendaraan
"Performa ini enggak bisa dikompromikan. Performa harus menjadi kunci, jangan sampai kita turunkan performa karena menggunakan material recycle. Jadi, tantangannya bertambah lagi karena climate change ini isu yang nyata di mata kita, memang bumi ini memanas," ujar Taqia dalam sebuah webinar, dikutip Rabu (8/7/2026).
Menurut Taqia, kenaikan suhu akibat krisis iklim dapat mempercepat penurunan kualitas perkerasan jalan. Di sisi lain, curah hujan yang semakin ekstrem juga berpotensi memperpendek umur jalan, meski dampaknya dapat dikurangi melalui sistem drainase yang baik.
Karena itu, penggunaan material daur ulang tidak boleh mengorbankan kualitas konstruksi. Ia menekankan bahwa keberlanjutan harus berjalan beriringan dengan ketahanan infrastruktur.
"Sekarang bukan hanya performa yang bagus, tetapi juga ada isu pendekatan climate resilient pavement," katanya.
Taqia menjelaskan, material hasil daur ulang memiliki manfaat besar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan penggunaan sumber daya alam. Namun, pemanfaatannya harus disesuaikan dengan fungsi konstruksi jalan.
Salah satu material yang paling banyak digunakan adalah Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), yakni material perkerasan jalan lama yang diproses kembali untuk digunakan pada pembangunan jalan baru.
Menurut dia, penggunaan RAP mampu menghemat energi, mengurangi eksploitasi material baru, memperbaiki kerataan permukaan jalan, serta menekan emisi gas rumah kaca sekitar 29-30 persen.
Meski demikian, umur layanan aspal berbahan RAP umumnya lebih pendek dibandingkan perkerasan yang menggunakan material baru.
Baca juga: Kota Ini Bikin Terobosan, Sulap Puntung Rokok Jadi Aspal
Aspal daur ulang diperkirakan memiliki masa layanan sekitar tujuh hingga delapan tahun sebelum membutuhkan pelapisan ulang, sedangkan perkerasan berbahan baru dapat bertahan hingga sekitar 30 tahun.
Selain RAP, sejumlah material daur ulang lain juga mulai dimanfaatkan dalam konstruksi jalan.
Material tersebut antara lain Recycled Concrete Aggregate (RCA) atau agregat beton daur ulang yang umumnya digunakan sebagai lapis pondasi jalan karena masih menyisakan mortar pada permukaannya.
Kemudian terdapat fly ash atau abu terbang dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS), limbah industri peleburan besi yang dapat menggantikan sebagian penggunaan semen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya