Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sekolah Tambang Hadir di Morowali, Mampukah Jadi Tiket Masa Depan Daerah?

Kompas.com, 9 Juli 2026, 10:35 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

MOROWALI, KOMPAS.com – Ketika kawasan industri nikel mulai tumbuh pesat di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, pemerintah melihat satu persoalan yang harus segera dijawab: siapa yang akan mengisi puluhan ribu kebutuhan tenaga kerja di industri baru tersebut?

Jawabannya kemudian diwujudkan dalam pendirian SMK Negeri Pertambangan Bungku pada 2017.

Sekolah kejuruan itu memang lahir untuk satu tujuan utama, yakni menyiapkan tenaga kerja lokal agar tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya investasi industri pengolahan nikel.

Sekitar 80 persen lulusan angkatan pertama pada 2019 langsung terserap bekerja di kawasan industri nikel, terutama di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang saat itu membuka kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah sangat besar.

"Sampai hari ini kan sudah terlaksana itu, dengan tujuan merekrut tenaga-tenaga kerja lokal," ujar Kepala SMK Negeri Pertambangan Bungku Sarfin Suaib kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Baca juga: APNI: Penerapan ESG Industri Nikel Harus Dimulai dari Tambang

Kini sekolah tersebut tidak hanya menampung siswa asal Morowali. Murid-murid datang dari berbagai daerah, mulai Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga Kalimantan. Sebagian besar memilih langsung bekerja setelah lulus, sementara hanya sedikit yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kurikulum mengikuti kebutuhan industri

Sebagai sekolah yang sejak awal dirancang untuk mendukung hilirisasi nikel, SMK Negeri Pertambangan Bungku berusaha menjaga keterkaitan antara pembelajaran dan kebutuhan dunia industri.

Empat jurusan dibuka, yakni Geologi Pertambangan, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Kimia, serta Teknik Mekanik Industri.

Sekolah juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan di kawasan industri, terutama untuk program praktik kerja lapangan (PKL).

"Kurikulum Merdeka ini bagaimana link and match-nya pembelajaran dengan perusahaan kami satukan. Di SMK itu sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori," kata Sarfin.

Selain memperoleh bantuan peralatan praktik dari pemerintah, sekolah juga mendapatkan dukungan fasilitas melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sejumlah perusahaan dan BUMN.

Meski demikian, masih ada sejumlah fasilitas yang belum dimiliki sekolah, seperti alat untuk menguji kadar bijih nikel maupun sistem penyimpanan energi dari pembangkit listrik tenaga surya dan angin.

Untuk mendekatkan siswa dengan dunia kerja, perusahaan juga rutin mengirim tenaga profesional menjadi pengajar tamu, mulai dari materi teknis pertambangan hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Ketika siswa diperlakukan seperti pekerja

Namun, hubungan antara dunia pendidikan dan industri tidak selalu berjalan mulus.

Sarfin mengaku kerap mengkhawatirkan pelaksanaan PKL di kawasan industri. Menurut dia, siswa yang masih berstatus pelajar kerap diperlakukan layaknya pekerja penuh waktu.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau